Jumat, 04 Februari 2011

Internet Come to Village

            In this era, e-mails had comes to the hamlet village.
One day, Tukijo, carpenter from Wonosobo, get the order to make the hotel’s meuble at Jogjakarta. He go earlier with his brother. Tukijo’s wife will follow tomorrow. When he was arrived at Jogja, he send the e-mail for his wife.
At another place, but still at Wonosobo, Rugiyem, the wife’s who was being sad after  her already deliver her husband to the grave. Finish from the graveyard, she back to her home and open the inbox too see the news from another family.
Suddenly, after she opened that inbox, she crying  and unconscious. The son was wonder and read the e-mail, too. But he cried too.
Tukijo was false to type the word “Tugiyem” and write “Rugiyem”. It’s because “T” and “R” are near. As we know, the finger of carpenter is bigger than normal size.
Do you want to know  the contents of that e-mail?
“My lovely wife’s. Thank you so much  for to conduct me this morning. I had been arrived now, and I’m accepted here. I’m very happy because I can met another old friends here. From the news, you will go to follow me tomorrow. Your name are already registered. I will be waiting for you. Oh, feel hotter here. Big hug”.

Minggu, 09 Januari 2011

Indonesiaku Kini


Indonesiaku Kini
Oleh: Ahmad Doni Meidianto



Bagaimana kabarmu saat ini, duhai Bumi Pertiwi?
Sehat sentosa, atau sengsara mencekam?
Dilema sedang berkeliling ke mana-mana
Menghantui setiap darah dan emosi yang ada
Itulah jawabannya!

Di luar sana sering terjadi bencana
Saudara sebangsa banyak yang binasa
Ada apa wahai Tuhan?
Apakah semua kini sudah gawat?
           
Disisi lain koruptor semakin menggila
Mempermainkan hukum layaknya sebuah  boneka
Begitu banyak yang termakan tipu daya
Tak sedikit yang terhasut dengan kehidupan dunia

Air mata mengalir deras
Mengalir dari saudara-saudara yang tertindas
Akibat kekuasaan orang gila yang semakin mengganas
Membuat hati ini kian memanas

Sungguh kasihan nasibmu kini, wahai Jamrud khatulistiwa
Saatnya menyalakan cahaya di tengah keburaman
Mencari secercah harapan di tengah kegalauan
Untuk membangun kembali Merah Putih yang cemerlang

Negeri ini sedang dilanda krisis
Krisis yang sepertinya sulit untuk dihilangkan
Tak ubahnya benalu yang melingkupi sumber pangan
Kemana perginya kejujuran?
Tak adakah yang melestarikan aset pemberian Yang Maha Kuasa ini?

Kini saatnya kita berbenah
Membangun kembali karunia yang sudah mulai punah
Jika bukan kita, maka siapa yang akan membentengi Nusantara?
Siapa yang akan membangun Indonesia?
Kita semua!

Kamis, 30 September 2010

Mahalnya Aset Kejujuran

          Upacara pengibaran bendera adalah salah satu hal yang lumrah dilakukan di tiap sekolah di Indonesia, tak terkecuali sekolah saya. Namun pada upacara hari itu, ada satu persoalan yang mengusik batin saya, yang kemudian telah saya tuliskan menjadi bacaan yang saat ini sedang Anda baca. Yang mengusik logika saya adalah isi dari amanat pembina upacara, yang pada waktu itu disampaikan oleh guru Matematika SMA Negeri 17 Palembang, Pak Udni, S.Pd. Beliau mengangkat topik tentang fenomena kejujuran yang merajalela di negeri tercinta.
          Pagi itu, beliau mengawali amanat dengan mengajak peserta upacara untuk mengingat kembali pelaksanaan Ujian Nasional tahun kemarin. Beliau berkata, "Betapa mahalnya kejujuran di Indonesia saat ini. Coba kita ingat dan renungkan kembali. Pelaksanaan Ujian Nasional tiap tahunnya menyerap perhatian yang tidak sedikit dari pemerintah maupun pihak keamanan. Pemerintah menginginkan semua peserta ujian berlaku jujur dalam menjawab soal, sehingga kelak akan mampu bersaing di zaman globalisasi".
          "Untuk menindaklanjuti persoalan kejujuran peserta ujian, pemerintah mengutus pihak keamanan (dalam hal ini dari kepolisian) untuk mengawas pelaksanaan Ujian Nasional di tiap sekolah di Indonesia, yang jumlah sekolahnya berjumlah jutaan dan tersebar dari Sabang sampai Merauke," sambung beliau menyeret kami ke dalam inti yang akan dijelaskannya.
          Beliau menarik nafas sejenak, sembari memandang peserta upacara dengan seksama.
          "Nah, sebagai guru Matematika, kita tentu sudah belajar konsep logika. Dalam logika, kita dihadapkan dengan hitung-hitungan yang berdasarkan dengan realita yang terjadi. Dalam hal ini mari kita terjun ke alam pikiran kita. Jika dalam satu pelaksanaan Ujian Nasional terdapat 100 ribu sekolah yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, dan dalam tiap sekolah ditugaskan seorang anggota keamanan oleh pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan ujian tersebut, berarti ada 100 ribu angggota keamanan yang berjaga di tiap sekolah".
          "Kemudian bila tiap orang anggota keamanan diberikan uang transpor dan uang makan sebesar Rp. 100.000,- saja, berarti ada Rp. 10.000.000.000,- (10M!) yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk "upah" mengawasi kejujuran dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Bayangkan, 10 Milliar! Saya yakin kalau dana sebanyak ini dialihkan untuk pemerataan desa-desa, tentu perkembangan dan kemajuan Indonesia akan semakin cepat" jelas beliau menggebu-gebu.
          "Sebenarnya dana sebesar ini tidak perlu dikeluarkan bila semua warga Indonesia berlaku jujur. Inilah salah satu contoh nyata yang menunjukkan betapa mahalnya aset kejujuran bangsa ini". 
          "Oleh karena itu, marilah kita sebagai warga yang cinta terhadap bangsa dan peduli terhadap kemajuan negara, berlakulah jujur! Sekarang sudah banyak orang yang pintar! Namun sangat sulit untuk menemukan orang yang jujur. Percaya tidak percaya, inilah realita yang terjadi!"
          Itulah kira-kira kalimat yang diucapkan beliau. Kita dapat mengambil makna dan pesan yang tersimpan dalam amanat beliau. Bahwa harga dari aset kejujuran yang berada di dalam diri masyarakat kini sudah sangat-sangat mahal. Setuju?