Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 Desember 2009

Pesona Mentari

PESONA MENTARI
( oleh : Ahmad Doni Meidianto )

          “Kamu ngapain sih, kayak orang gila aja,” ujar Bella mengomentari seorang gadis yang duduk di depannya. Ia tengah asyik bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan jarinya walaupun suaranya kadang membesar, kadang pula seperti suara angin membelah keheningan malam. Ditelinganya terpasang ear-phone berwarna putih kesayangannya, dan sayup-sayup terdengar suara lagu yang sedang diputar. Bayangkan, gemericik suaranya terdengar sampai radius 5 meter dari posisi ia duduk. Mungkin hal itu dilakukannya agar ia bisa berkonsentrasi dalam mengolah suaranya, dan sesekali badannya ”berdendang” mengikuti irama musik seperti penyanyi pop papan atas yang tengah bernyanyi di depan ribuan fans setianya.
          Namanya Mentari. Ia lahir dengan sebuah kekurangan yang menjadikannya tidak bisa menyaksikan keindahan dan keanggunan ciptaan-Nya seumur hidup. Ia terlahir dalam keadaan buta alias tunanetra. Konon kabarnya, ia buta karena kesalahan dokter yang tidak sengaja “menyentuh” matanya saat ia baru keluar dari rahim ibunya. Sekarang ia telah berumur 16 tahun, artinya ia bisa bertahan hidup dalam “keterbutaannya” itu dan mampu menjalani kehidupan layaknya “manusia sempurna” lainnya.
          Namun hal itu tidak menjadikannya patah semangat. Ia tetap berusaha menikmati keindahan panorama alam, menjamah pendalaman seseorang, dan membahagiakan kedua orang tua tersayang. Ia selalu mendapat peringkat 3 besar di kelasnya. Hal ini pula yang menjadi daya tarik seorang Mentari terhadap siswa putra lainnya.
***
          “Tari!,” teriak Santi dari kejauhan. Tampak ia berlari tergopoh-gopoh menuju sahabatnya yang sedang duduk santai di sekitaran kantin sekolah.
          “Ada apa sih?” tanyanya dengan nada polos sambil melahap sejumlah gorengan di depannya.
          “Nih, ada surat dari Rio. Kata anak-anak sih, dia suka sama kamu,” jawab Santi disambut dengan senyuman khas Mentari.
          “Jadi kenapa kalo dia suka denganku, mau langsung ngelamar ya?” canda Mentari.
          “Aku masih mau belajar dulu. Males ngurusin masalah kayak gitu. Belum waktunya,” sambungnya sambil mengajak Santi beranjak kembali ke kelas.
          “Gak juga sih. Aku kan cuma ngasih tau kamu doang,” balas Santi dengan wajah memelas sambil membimbing dan menuntun Mentari berjalan.
          “Iya iya. Makasih ya. Kamu emang sahabatku yang setia, selalu bantuin aku dimanapun dan kapanpun,” Mentari berterima kasih kepada sahabatnya yang selalu ada saat diperlukan. Terutama saat di sekolah.
          Santi tinggal tidak jauh dari rumah Mentari, sehingga ibunya menitipkan Mentari untuk dibimbing lagkahnya selama menuntut ilmu. Hal ini sangat membantu Mentari untuk mengejar cita-citanya. Meskipun menjadi dokter adalah hal yang mustahil bagi para tunanetra, ia tetap berusaha menjadi “dokter impian” yang mampu mmenyejukkan batinnya dan mennyembuhkan luka di hatinya.
           Teng-teng-teng!
          Terdengar dentangan lonceng menandakan waktu jam belajar telah usai. Seperti biasa, Santi membimbing Mentari pulang menuju rumahnya. Mereka pulang menggunakan mobil antar-jemput yang sengaja disiapkan orang tua Mentari agar ia tak kesulitan dalam urusan transportasi. Ketika mereka berjalan menuju ke mobil, Rio memanggil Santi dengan menepuk pundaknya. Ia meminta untuk bertukar menuntun Mentari menuju mobil tanpa bersuara. Santi pun mengangguk tanda setuju.
          “Tari, aku mau ke toilet sebentar ya. Kamu duduk dulu aja disini. Udah kebelet dari tadi,” ujar Santi sambil membimbing Mentari duduk di tempat duduk yang berwarna hijau berada di bawah pohon beringin.
          “Ya udah. Cepetan ya tapi aku takut ntar ada yang gangguin aku,” pinta Mentari sembari duduk membisu menunggu Santi.
          Santi kemudian sepakat untuk membantu Rio. Rio yang menggandeng, Santi yang bersuara untuk bercakap-cakap dengan Mentari tak jauh dari posisi mereka.
           Tak lama kemudian, Santi versi laki-laki yang tentunya itu Rio mulai membimbing Mentari menuju mobil antar jemput yang telah siap.
          “Eh, kok tangan kamu kasar sih kulitnya. Ngapian kamu di toilet?” Tanya Mentari sembari mengernyitkan dahi.
           Rio membisu tak menjawab pertanyaan Mentari. Namun Santi sigap menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
          “Tadi aku cuci tangan. Tapi kayaknya sabunnya yang gak bagus. Maaf ya Tar,” jawab Santi berlagak menjadi si empunya tangan.
          Rio mesem-mesem dan tersenyum dikulum saat Mentari semakin erat memegang tangannya. Mungkin Mentari ingin menjelajahi kenapa tangan Santi dapat berubah menjadi kasar hanya dalam waktu kurang dari 15 menit. Di pikirannya banyak pertanyaan yang timbul, tapi apa daya, ia tak bisa memastikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Santi jadi-jadian itu pun lantas membimbing Mentari menuju ke mobil.
***
          Keesokan harinya, Mentari kembali menerima surat dari Rio. Isinya yah, tentang kisah remaja pada umumnya.

Wajahmu sanggup membuat matahari tak nerhenti bersinar
Kilau senyummu sanggup membuat bunga-bunga tumbuhberpenjar
Sungguh, kau telah menjebak hatiku
Kau telah mengurung cintaku
Dan kau telah membakar kobaran api cintaku

          Itulah sepenggal puisi yang disisipkan dalam surat tersebut. Namun Mentari tetap bersikap dingin ketika Santi memmbacakan isi surat itu kepadanya. Seperti biasa, maksud yang ingin disampaikan Rio tetap bertepuk sebelah tangan.
***
          Hari demi hari Mentari tak menyahut uluran tangan dari Rio. Seolah sudah tahu maksudnya, Mentari tetap cuek atas apa yang telah Rio perbuat untuknya. Mulai dari kata-kata romantis, rayuan-rayuan, dan sebagainya. Mentari pun menjadikan hal itu sebagai makanan sehari-harinya. Hingga suatu hari, tak terdengar satupun untaian kata dari Rio.
          Mentari yang sedikit merasakan keganjilan karena hilangnya sesuatu, lantas menanyakan hal itu kepada Santi.
          “San, Rio kemana ya? Kok gak kedengeran lagi rayuan-rayuan basinya,” tanya Mentari dengan sedikit maksud bercanda.
          “Gak tau juga sih. Ntar aku tanyain deh. Kenapa, kangen ya?” sindir Santi sedikit menyinggung.
          “Gak kok. Siapa bilang kangen. Bosen kali,” jawab Mentari kesal.
          Setelah ditanya perihal itu, ternyata Rio pindah lantaran ikut orang tuanya yang pindah kerja ke luar negeri. Mentari pun yang semul a acuh dengan semua tentang Rio tiba-tiba merasa kesepian. Tak ada lagi yang menggombal, tak ada lagi yang merayu, tak ada lagi suara mesra yang menggetarkan hati. Itulah pesona Mentari.

***

In My Dream?

IN MY DREAM?
(oleh : Ahmad Doni Meidianto)
 
           “Nadin, tau gak tanggal 20 ntar kita ikut pelatihan pengurus OSIS? Tingkat SMA se-Jawa Barat lho,” tanya Nova pada seorang cewek berkulit putih dan berambut panjang yang sedang sibuk melahap bakso kesukaannya di kantin Bu Mar.
           “Serius?! Berarti kamu juga ikut kan?” jawabnya saraya mengunyah bakso telor yang nyesek di mulutnya.
          “Yaiyalah. Tapi cuma kita berdua. Ketua sama sekretarisnya doang,” balas Nova sambil mempeerlihatkan surat tugas dari sekolah.
          “Kita disana nginep 6 hari. Kegiatannya sih macem-macem. Mulai dari pemberian materi dasar kepemimpinan, sampe seru-seruan pas diskusi kelompok. Ada outbond nya juga lho,” lanjut Nova dengan semangat menggebu-gebu.
          “Emm, ya udah deh. Ntar aku tanya papa sama mama dulu ya, dibolehin apa gak,” jawab Niadin santai sambil mengambil dan memasukkan surat tugas itu ke dalam tasnya yang berwarna coklat keemasan.
          “Pokoknya seru deh. Rugi kalo kita gak ikut,” lanjut Nova bermaksud membujuk Nadin.
***
          “Wah, serem bener nih asrama. Jalan kesini aja rada angker. Tapi lumayanlah, tidurnya di spring bed,” gumam Nadin sambil meletakkan tas di kamar bertuliskan “A16”.
          “Kamu dari daerah mana? Namaku Soraya. Biasa dipanggil Sora,” sapa seorang cewek dari arah belakang sambil mengulurkan tangan.
          “Ah, iya. Namaku Nadin. Utusan dari kota Bandung. Kamu dari daerah mana?” balas Nadin seraya menjabat tangan Sora.
          “Aku dari daerah Garut. Oh iya, dari sekolah kamu ngirim berapa pengurus OSIS?” lanjut Soraya mempersilahkan Nadin duduk di spring bed yang empuk berwarna krem muda.
          “Kami cuma berdua. Satu ketua, satu lagi sekretaris. Nah, yang ketuanya anak cowok. Namanya Nova,” Nadin mencoba mengakrabkan diri.
          “Kalo kami sih dua orang juga. Sama kayak kamu, satu ketua, satu lagi sekretaris. Ketuanya juga anak cowok. Namanya Dika,” sambung Soraya seolah tak mau kalah.
          “Ya udah. Semoga kita bisa jadi sahabat yang saling membantu,” harap Nadin sambil merebahkan badan bermaksud untuk beristirahat. Kebetulan Nadin tiba di asrama pukuk 20.45, jadi ia ingin langsung istirahat guna bersiap menyongsong 6 hari ke depan yang belum diketahuinya bersama teman-teman barunya.
***
          “Dipersilahkan kepada adik-adik sekalian bila ingin bertanya perihal materi kita pada siang hari ini,” narasumber memberikan kesempatan bertanya kepada seluruh siswa yang hadir, dan tentunya mereka semua merupakan pengurus OSIS dari sekolah masing-masing.
          Sejurus kemudian, seorang siswa putra mengangkat tangan hendak bertanya mengenai materi yang telah disampaikan. Sejak saat itu, Nadin mengenal siswa tersebut dengan nama Dika.
          “Ah, berarti dia ketua OSIS-nya sekolah Soraya,” pikir Nadin dalam hati.
          Wajahnya tidak terlalu tampan. Bahkan dapat dikategorikan biasa-biasa saja. Tingginya pun hanya sekitar 168 cm. Namun “aura” yang dipancarkan Dika membuat hati Nadin penuh dengan tanda tanya. Seolah tertarik dengan rupanya yang tergolong manis, Nadin memberanikan diri bertanya kepada Soraya tentang siswa itu.
          “Ooh.. Jadi kamu pengen kenalan ya? Tapi dia udah punya cewek lho. Gimana, masih mau coba?” tanya Soraya sembari mengedip-ngedipkan mata.
          “Emm, boleh deh. Tapi aku titip salam aja ya. Bilang ke dia, ada salam dari salah satu peserta putri yang penasaran sama dia,” jawab Nadin malu-malu.
          Sejak malam itu, hari-hari yang tersisa semakin terasa berat setelah hadirnya seorang Dika di benaknya. Nadin merasa sulit menjawab rasa penasaran itu sebelum ia becakap langsung dengan yang bersangkutan. Kebetulan saat itu Nadin sedang jomblo alias free. Memang Nadin sedang menanti hadirnya seseorang yang setidaknya mampu menyembuhkan luka yang dibuat oleh seorang cowok 4 bulan silam.
***
          “Hai, kamu yang namanya Nadin ya? Kata Soraya kamu lagi perlu pena. Nih. . .” sapa Dika sembari memberikan sebuah pena bertuliskan Hi-Tech berwarna hitam.
          “I. .i. .iya. Makasih ya,” jawab Nadin terbata-bata sambil menerima pinjaman pena dari Dika.
          “Huh, dasar si Soraya. Masa gini dia nyapanya. Kan gak seru,” gumam Nadin sambil menuju ke tempat duduk dan siap untuk menerima materi kembali.
***
           Malam harinya, Dika ternyata ingin bertemu dengan Soraya untuk membahas pelajaran di sekolah. Kebetulan malam itu tidak ada penyampaian materi kepada peserta. Hal ini tidak dilewatkan oleh Nadin untuk menyelidiki sejauh mana pengetahuannya tentang Dika.
          “Mau belajar bareng gak?” ajak Dika sembari tersenyum.
          “Boleh,” sahut Nadin bersemangat.
           Mereka bertiga pun berbagi pengalaman mengenai pelajaran yang telah dipelajari di sekolah. Ternyata materi di sekolah Dika dan Soraya sudah jauh meninggalkan materi di sekolah Nadin, sehingga Nadin hanya bisa terdiam menyaksikan mereka berdua belajar bersama.
          Sekitar pukul 21.00, mereka beranjak kembali ke kamar masing-masing. Setelah berpamitan, Nadin bergegas masuk ke kamarnya. Ternyata walaupun sudah bertatap muka dan berbincang langsung dengan orang yang selama ini di selidiki, tidak menyurutkan rasa penasaran Nadin terhadap Dika.
          Hari demi hari terasa begitu cepat seolah ingin meninggalkan rasa penasaran Nadin ditelan oleh sang waktu. Tak terasa tibalah hari perpisahan dimana seluruh peserta dipersilahkan untuk kembali ke daerah masing-masing karena materi yang di siapkan telah disampaikan semuanya kepada peserta. Nadin merasa sedih akan datangnya hari itu, karena baginya perpisahan itu akan semakin membuat hatinya penasaran.
         “Sampai bertemu lain kali ya, Nadin,” Dika mengucapkan kalimat terakhir sebelum mereka semua kembali ke rumah masing-masing.
         “Ya, sampai ketemu juga ya,” jawab Nadin memberikan senyuman terakhir sejadi-jadinya kepada Dika.
          Mungkin itulah sosok seseorang yang akan terus merasuki hati Nadin diiringa dengan beribu tanda tanya tentang dirinya. Ia berharap akan ada yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kelak, walaupun yang menjawabnya bukan orang yang bersangkutan. Namun ia juga pesimis akan tibanya jawaban-jawaban itu. Who can answer my question? Maybe it only in my dream.

Kini, tibalah saatnya kita kan berpisah
Berpisah dengan teman-teman seperjuangan
Kalau ada kesalahan mohon dimaafkan
Sejiwa janji kita untuk selama-lamanya

***

Nenek Jamilah

NENEK JAMILAH
(Oleh : Ahmad Doni Meidianto )

          “Hei, ada nenek Jamilah!” seru Tono sambil menunjuk seorang nenek yang sedang menyapu.dedaunan di halaman rumahnya.
         “Hati-hati! Nenek itu orangnya galak. Rupanya aja serem, gimana suaranya ya?” sambung Andi memberi peringatan kepada Edwin yang sedang bersiap memanjat pohon mangga persis di sebelah rumah nenek itu.
          Kebetulan 3 rumah di deretan daerah itu adalah kepunyaan nenek Jamilah. Kabarnya rumah-rumah itu peninggalan suaminya yang wafat karena sakit jantung dahulu. Tapi sampai sekarang belum ada yang mau mengontrak ataupun menunggu rumah-rumah tersebut.
         “Tapi kata ayah, nenek Jamilah itu orangnya baik lho. Walaupun wajahnya seram, tapi hatinya selembut kapas. Dia gak mau ada orang yang mencuri, tapi kalau orang itu meminta kepadanya, pasti diberinya. Percaya deh,” terang Edwin kepada Tono dan Andi sambil beranjak turun kemudian mengajak mereka untuk menghampiri Nenek Jamilah.
          “Permisi Nek, selamat pagi,” sapa Edwin ramah.
          “Pagi juga. Ada apa ya nak pagi-pagi udah ngasih salam?” tanya nenek Jamilah dengan suara sedikit parau sembari tersenyum kepada anak-anak yang berada di depannya.
          Tono dan Andi hanya terpaku melihat senyuman nenek Jamilah. Ternyata senyum nenek Jamilah manis juga, pikir mereka dalam hati.
          “Begini Nek. Kami mau minta izin dengan Nenek. Boleh tidak kami minta sedikit buah mangga kepunyaan Nenek yang ada disebelah? Teman-teman saya juga mau minta, tapi tak berani,” jelas Edwin kepada nenek Jamilah.
          “Oh, kalau begitu ambillah berapa pun yang anak-anak mau. Asal jangan pohonnya juga yang dibawa,” canda nenek Jamilah diikuti senyuman darinya maupun anak-anak itu.
          “Makasih ya Nek. Kami cuma mau minta dua buah kok, gak lebih,” jawab Tono dengan bersemangat setelah mengumpulkan keberanian di hatinya.
          “Ya sudah. Tunggu apa lagi,” sambung Andi bergegas mengambil buah mangga yang sudah arum di atas pohon itu.
          “Hati-hati ya kalian,” jawab nenek Jamilah sambil meneruskan pekerjaannya membersihkan halaman rumahnya.
***
          Suatu pagi, tepatnya hari Minggu, nenek Jamilah yang hanya mengenakan pakaian daster hendak pergi ke pasar. Ia pergi dengan berjalan kaki sekaligus berniat menjaga kesehatan tubuhnya agar tetap bugar.
          Ditengah perjalanan, nenek Jamilah melihat seorang lelaki tua renta dan kelihatannya ia buta, yang hendak menyeberang jalan. Namun tak seorangpun menyadari keberadaaan kakek tersebut, seolah tidak dianggap oleh orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya.
          Nenek Jamilah bergegas menghampiri lelaki tersebut bermaksud membantuya menyeberang jalan. Memang nenek Jamilah tergolong orang tua yang masih kuat berjalan, sehingga tidak menyulitkan orang-orang disekitarnya. Namun ketika nenek Jamilah sedang menuntun lelaki tua itu ke pinggir jalan, seorang laki-laki merampas tas yang dibawanya dan berlari meninggalkan mereka. Nenek Jamilah yang kaget lantas berteriak copet walaupun suaranya tidak terlalu kedengaran orang-orang disekitarnya.
          Tiba-tiba Andi dan Tono serta Edwin yang kebetulan lewat di sekitar tempat kejadian langsung mengejar pencopet itu. Edwin yang merupakan pelari terbaik dari sekolahnya dengan cepat telah mendekati pencopet itu. Dengan satu gerakan mencungkil, ditendangnya kaki pencopet itu hingga jatuh terjerembab. Anto dan Andi serentak mengambil tas nenek Jamilah yang ada di tangan pencopet itu, dilanjutkan melepaskan jurus-jurus karate yang mereka pelajari di sekolah.
          Sontak pencopet itu melindungi badannya dengan kedua tangan yang terlihat telah terluka akibat jatuh terjerembab tadi. Tak sampai 10 detik, warga yang ikut mengejar pencopet itu langsung menghadiahi berbagai macam tinju maupun tendangan kepada si pencopet. Namun tak berapa lama, petugas yang berada di sekitar pasar itu langsung mengamankan si pencopet dari amukan massa menuju ke pos polisi terdekat.
          Edwin dan Andi serta Tono langsung menghampiri nenek Jamilah dan memberikan tas kepunyaannya yang telah sempat ‘mampir’ di tangan pencopet. Kemudian dengan inisiatif sendiri, Edwin segera membantu kakek tua yang hendak menyeberang tersebut hingga tiba di seberang jalan.
          Nenek Jamilah hanya bisa tersenyum lega atas kesigapan anak-anak itu membantu dirinya. Dia menilai, ketiga anak itu memiliki jiwa ksatria dan berhati baik. Mereka tidak ragu untuk menolong orang yang sedang membutuhkan pertolongan, walaupun harus menyeka keringat yang membasahi wajah polos mereka.
          “Terima kasih ya nak,” itulah kalimat yang terucap dari bibir nenek Jamilah kemudian melanjutkan aktifitasnya seperti biasa.
***
          Semenjak kejadian itu, hubungan anak-anak tersebut dengan nenek Jamilah semakin dekat. Mereka kerap bercanda bersama di depan halaman rumah nenek Jamilah pada pagi hari. Tak jarang juga sepiring pisang goreng dan teh manis menemani mereka menikmati cerahnya mentari pagi.
          Andi dan Edwin serta Tono kini berpandangan lain terhadap nenek Jamilah. Walaupun menurut masyarakat sekitar nenek itu tidak ramah, itu hanya sebatas melihat dari penampilannya saja. Nenek Jamilah ternyata orang yang murah senyum dan tak segan membantu orang lain.
          Ia juga termasuk orang yang sabar. Tak lupa ia selalu mengingatkan remaja-remaja maupun anak-anak di sekitar rumahnya untuk tidak melakukan tindakan mencuri. Karena menurut nenek Jamilah, mencuri hanya mendatangkan materi sesaaat, tidak selamanya.
          Selain itu, mencuri dapat merusak kepercayaan yang telah diberikan orang lain terhadap orang tersebut. Oleh karena itu, jagalah moral dan kepercayaan yang telah terbentuk dalam diri setiap manusia. Hindari perbuatan-perbuatan yang mendatangkan masalah maupun bencana yang tentunya akan merugikan orang tersebut.
***

Kehidupan Dalam Tulisanku

KEHIDUPAN DALAM TULISANKU
( oleh : Ahmad Doni Meidianto )

          Senja itu terasa berbeda. Matahari bersinar dengan anggun dan angin leluasa menari bebas di tengah suasana kota Palembang yang sejuk. Tampak seorang remaja tengah sibuk menulis karangan cerpen di kamarnya yang sempit diiringi alunan music slow menggunakan ear-phone. Remaja itu bernama Indah, siswi di salah satu sekolah yang tergolong “biasa” di Palembang. Suara helaan nafas seringkali memecah keheningan diiringi sekaan peluh yang membasahi wajahnya.
          Sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Indah memang sudah terpikat dengan dunia tulis-menulis. Buku-buku yang “berbau” itu pun telah banyak yang ia “lahap,” dan tak lupa ia juga rajin “berseluncur ria” di dunia maya demi bertambahnya ilmu di bidang jurnalistik tersebut. Ia memang bercita-cita menjadi penulis profesional, hingga kelak namanya takkan hilang ditelan oleh sang waktu.
          Memang sesekali tulisan yang ia kirimkan dimuat di surat kabar setempat, bahkan tidak jarang ia mendapat “bayaran” dari tulisannya itu. Hal itu dilakukan demi menuntaskan kebutuhan psikologisnya, dan kalau “beruntung”, ia dapat mengurangi beban orang tuanya setidaknya dalam hal uang saku. Namun kali ini motivasinya berbeda. Ia ingin mempersembahkan cerpennya untuk sahabat yang tertimpa bencana, terkhusus kepada mereka yang terguncang gempa di daaerah Sumatera Barat. Ya, Indah merasa sangat sedih ketika mendengar berita dari bencana tersebut. Ia terbayang wajah anak-anak yang harus kehilangan tempat tinggal dan kasih sayang kedua orang tuanya akibat ditelan sang bumi.
         “Indah, makan sini, ayo. Bareng ayah,” panggil ibunya dari arah ruang makan yang sedang menyiapkan hidangan malam.
          Indah pun bergegas menuju ke ruang makan. Tiba-tiba, ia teringat tentang sebuah perlombaan menulis yang diadakan oleh majalah Marella. Lomba tersebut terbagi menjadi 2 bagian, yaitu lomba menulis dongeng dan lomba menulis cerpen. Ia pun memilih mengikuti perlombaan menulis cerpen ketimbang menulis dongeng, karena menurutnya, menulis cerpen cakupannya bisa lebih luas dari dongeng.
          “Bu, liat majalah Marella yang dikamar gak? Indah nyariin dari tadi kok gak ada,” tanya Indah sambil melahap masakan olahan ibunya.
          “Oh, ada di kamar ibu. Tadi ibu pinjem buat liat resep masakannya. Nanti ambil aja di kamar ibu,” jawab ibunya.
          Selesai santap malam bersama ayah dan ibunya, Indah langsung mencari majalah tersebut dan mulai memutar otak agar tulisannya dapat dimuat di majalah itu. Tujuannya agar para pembaca sadar bahwa mereka semua bersaudara dan nantinya berbondong-bondong membantu saudara-saudara mereka yang tertimpa musibah, tidak melupakan atau membiarkan mereka “terkapar” tak berarti. Itulah harapan yang ada di benak Indah.
***
          Keesokan harinya, Indah tidak pergi ke sekolah karena badannya terindikasi terserang penyakit tipes, sehingga ia memiliki banyak waktu luang untuk membimbing penanya membuat sebuah tulisan yang kelak menggerakkan hati bangsa. Ia mengangkat dilema masyarakat Sumatera Barat dan membalutnya dengan kalimat-kalimat yang menggugah “selera” masyarakat Indonesia, khususnya pembaca. Tak lupa ia tuliskan saran dan masukan bagi bangsa Indonesia untuk berperan aktif dalam upaya membantu saudara sebangsa dan setanah air.
          Tak terasa, matahari tengah berada pada puncak klimaks menerangi bumi menandakan hari sudah siang. Terdengar suara anak-anak kecil berlalu lalang di sekitar rumahnya seolah mengisyaratkan kepada Indah untuk berhenti sejenak.
          “Selamat siang. . .”
          “Indahnya ada tante?” terdengar seseorang bertanya kepada ibu Indah.
          “Oh, ada. Sebentar ya, tante panggilkan dulu. Kamu duduk aja di dalem, nanti tante buatin minuman” kata ibu Indah seraya mempersilahkan orang tersebut masuk dan bergegas menuju ke kamar Indah.
          Indah yang memang sudah tahu kedatangan seseorang melalui suaranya itu, bergegas menuju ke ruang tamu. Ibunya pun langsung menuju ke dapur untuk membuatkan minuman.
          “Oh, Mira. Apa kabar? Ngapain kamu kesini, kangen ya sama aku,” canda Indah dengan suara sedikit bergetar karena merasa kedinginan.
          “Bisa aja kamu. Denger-denger, kamu kena gejala tipes ya? Nih, aku bawain catatan pelajaran di sekolah tadi. Daripada kamu ketinggalan, gak seru dong kalo kamu gak masuk 3 besar di kelas,” jawab Mira santai sambil meminum minuman yang dibuatkan ibu Indah.
          “Iya sih. Makasih ya Mir. Kamu emang sahabat aku yang top-cer deh,” balas Indah dibarengi senyuman sejuk sehingga membuat suasana siang itu sangat bersahabat.
          Selesai mereka bercanda tawa sejenak, Mira pun berpamitan untuk pulang. Tak lupa ucapan terima kasihnya kepada Mira mengalir dari mulut Indah di akhiri dengan pelukan hangat. Indah pun kembali melanjutkan aktifitasnya setelah selesai makan siang yang ditemani ibunya.
          Sampai matahari bersembunyi dan meneruskan pembagian cahaya kepada makhluk-Nya di belahan bumi lainnya, akhirnya cerpen karya Indah pun selesai. Indah merasa puas bercampur was-was berharap cerpennya akan dimuat di majalah Marella dan mengubah sudut pandang pembaca tercinta. Akhirnya ia memilih besok hari untuk memberikan cerpennya kepada panitia sepulang sekolah.
***
          Sepulang sekolah, Indah langsung menuju ke kantor bagian redaksi dari majalah Marella. Setelah menyater ojek selama 10 menit, ia pun tiba di depan sebuah gedung bertingkat 3 yang berada persis di pinggir jalan. Setelah memantapkan serta membulatkan tekadnya, ia segera masuk ke dalam gedung itu dan langsung mencari bagian redaksi penerbitan majalah tersebut. Ternyata, telah banyak orang-orang sebayanya, atau bahkan lebih tua dan lebih muda darinya telah berbaris menunggu giliran untuk menyerahkan cerpennya ke penerbit. Indah dengan sabar menunggu antrian tersebut sambil berbisik kepada dirinya bahwa karyanya tidak akan kalah “sehat” dibandingkan karya penulis-penulis lainnya.
          Tak terasa, Indah pun mendapatkan gilirannya untuk menyerahkan naskah cerpennya kepada penerbit. Ia langsung masuk dan duduk untuk menyerahkan cerpennya, disertai penjelasan mengenai tujuan dan isi cerpen tersebut. Diluar dugaannya, penerbit merespons positif karya Indah itu. Namun masih perlu dipertimbangkan lagi oleh penerbit dengan meminta saran dari para juri-juri yang lain dan tentunya berpengalaman.
          “Tunggu aja di Marella 2 minggu ke depan,” kata penerbit menutup pembicaraan seolah menimbulkan harapan di hati Indah.
          Indah pun pulang ke rumah dengan hati gembira, namun tetap berharap cerpennya dimuat majalah itu. Walaupun penerbit sepertinya merespon positif karyanya, Indah memilih untuk tidak takabur atas apa yang dirasakannya barusan. Akhirnya, ia sampai di rumah dan memulai kembali aktifitasnya seperti biasa sambil menunggu pengumuman pemenang lomba tersebut.
***
         Tibalah hari pengumuman itu, tepat 1 minggu setelah redaksi menutup penerimaan tulisan perlombaan tersebut. Sepulang sekolah, Indah langsung membeli majalah Marella di kios majalah terdekat lantaran ingin melihat pemenang-pemenang dari perlombaan yang diikutinya. Setelah majalah itu sudah berada di tangannya, ia sibuk membolak-balik halaman majalah itu untuk mencari pengumuman pemenang.

Pengumuman Pemenang Lomba Menulis Cerpen se-Indonesia
Tahun 2009
Juara 1 : Suci Larasati ( Menangis )
Juara 2 : Indah Dwi Ningsih ( Persaudaraan Yang Tercemar )
Juara 3 : Bella Nur Hais ( Roman Sejati )
Juara 4 : Fadhil Rizky ( “AKU” )
Juara 5 : Septian Agustino ( Seindah Pelangi )

          Itulah yang Indah baca dari pengumuman pemenang lomba itu. Ia “hanya” mendapat juara 2 dari perlombaan itu, dan beruntung, cerpen karyanya akan dimuat pada edisi Marella selanjutnya 1 minggu lagi. Serta ia pun berhak mendapat penghargaan berupa uang sebesar Rp. 500.000,00. Hal ini menjadi acuan bagi dirinya, untuk terus berkarya dan mempersembahkan sesuatu kepada orang yang disayanginya. Indah tidak kecewa, tapi tidak juga merasa senang. Hatinya bingung bercampur puas, seolah ada sesuatu yang meluap dalam dirinya, tak terasa ia pun meneteskan air mata. Ia terharu bercampur sedih, akhirnya tulisan yang menurutnya dapat menginspirasi para pembacanya dimuat dalam majalah itu. Ia berharap kepada calon pembacanya nanti, untuk lebih meningkatkan kesadaran dalam dirinya masing-masing.
          Manusia yang sedang berada di atas, tidak selamanya berada di atas. Hidup ini seperti berada di atas sebuah bola, bundar dan selalu berputar. Selalu terjadi pertukaran tempat antara kaum yang “kebetulan” sedang tertawa di atas, dengan kaum yang “sialnya” sedang menangis di bawah. Untuk itu, janganlah berpuas hati, janganlah lupa diri atas semua yang telah di dapat. Ingatlah awal dari semua perjuangan yang telah dilakukan, ingatlah saat kita sedang berada di bawah dan “mengemis” demi suatu tujuan.
          Menurut Indah, menulis dapat menghilangkan perasaan terkekang ataupun sedih yang sedang menimpa seseorang. Ia dapat menuangkan emosinya ke dalam secarik kertas dan membiarkan pena di tangannya menari gemulai memancarkan pesonanya. Dalam menulis, Indah mementingkan “gizi”dari tulisan itu, dengan penghayatan yang mendalam dan susunan kata yang tepat sesuai seperti apa yang ingin Indah sampaikan ke pembaca. Baginya, kehidupan dalam suatu tulisan adalah segalanya.
***