Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 September 2014

Indonesia bukan Bangsa Kuli!


     Dalam salah satu pidatonya yang bergelora, Bung Karno pernah mengatakan, “Bangsa ini harus dibangun dengan mendahulukan pembangunan karakter (character building) karena inilah yang akan membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar, maju, dan jaya serta bermartabat. Kalau character building ini tidak dilakukan, maka bangsa Indonesia akan menjadi bangsa kuli!”
     Seringkali kita menganggap bahwa pendidikan karakter adalah suatu hal yang tidak perlu di era modern. Perkembangan tata cara bersosialisasi dengan lingkungan sekitar seakan melunturkan nilai-nilai kepribadian dan karakter bangsa yang terkandung dalam Pancasila. Konsep kemanusiaan, permusyawaratan, dan keadilan sosial adalah beberapa dari nilai Pancasila yang seakan dikesampingkan oleh orang-orang yang mencari keuntungan pribadi, termasuk yang berkaitan dengan nilai-nilai karakter negara maju seperti kejujuran, tauladan, dan integritas.

Jumat, 12 September 2014

Hidup adalah Pilahan!



                Ada yang bilang hidup ini pilihan. Lo harus bisa milih mana yang bakal lo jalanin seterusnya. Dan pilihan ini akan ada terus, gak bakal berhenti sampai gak ada lagi yang namanya pilihan.
Tapi menurut gue, hidup itu pilahan. Ya, pilahan. Artinya gue menjalani hidup ini harus memilah apa yang bakal gue lakuin. Pernyataan “Memilah dan memilih” menurut gue bener, dan gue sepakat. Kita harus memilah dulu baru memilih.
                Menurut gue memilih itu lebih kepada “keputusan”, sedangkan memilah adalah “proses” menuju pemilihan. Apa yang bakal lo pilih tergantung dari apa yang lo pilah. Pilihan yang salah berawal dari pilahan yang gak beres.
Kalo hidup adalah pilahan, maka lo harus memilah mana yang terbaik buat lo, yang mana itu yang bakal lo pilih. Gak segampang itu memang. Memilah perlu ketelitian, positif thinking. Dan yang paling utama, memilah itu perlu pertimbangan.
Ketika lo gak mempertimbangkan apa yang akan lo pilah, pilihan bisa jadi bumerang. Lo bisa jatuh ataupun terpuruk dengan pilihan yang salah. Namun akan berbeda bila ada pertimbangan. Pertimbangan hal baik dan negatif yang ada dari pilahan itu akan membantu lo untuk memilih yang terbaik.
Pertimbangan yang matang akan menambah pola kritis kita, dimana itu akan memunculkan semua peluang dan ancaman yang akan lo hadapi dari suatu pilihan. Apabila lo udah tau apa peluang dan ancamannya, lo bisa persiapan. Entah itu persiapan supaya lo gak luka waktu jatuh, atau juga biar gak terbang terlalu tinggi. Semua ada disitu.
Sekarang kita punya pillihan masing-masing. Dan pilihan itu berawal dari pilahan yang udah kita lakuin. Kalo sekarang lo sadar ternyata pilihan lo salah, maka sebaiknya lo flashback ke belakang tentang proses memilah yang udah lo lakuin.  Apakah itu bener yang terbaik buat lo?
Banyak pilihan yang gak tepat karena hal-hal yang sifatnya eksternal, seperti pengaruh orang lain atau bisa juga dari literatur bacaan. Itu sebenernya cuma pilihan sesaat yang akan mengganggu konsentrasi dalam menentukan pilihan.  Pilihan yang lo butuhkan itu yang sesuai dengan pribadi masing-masing, pilihan yang lo butuhkan, bukan yang lo inginkan. Pilihan yang sesuai dengan prototype kita sebagai manusia, yang mempunyai cita-cita.
Sebaiknya sekarang kita cari tau, apakah pilihan ini memang sesuai dengan pilahan kita? Ataukah ada yang salah dengan pilahan dan pilihan kita?

Cara Mudah Agar Tubuh Tetap Sehat

Halo rekan-rekan semua!
Udah lama gak posting nih. Soalnya sekarang saya lagi pendidikan dan insya Allah bentar lagi kelar. Amin!

Pada kesempatan ini, saya ingin berbagi tips tentang bagaimana cara supaya badan kita senantiasa sehat. Tentu kita semua ingin sehat kan?
Hidup sehat tentu menjadi idaman tiap orang. Rasanya sangat jarang ada orang yang ingin hidup dalam keadaan sakit-sakitan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar tubuh kita tetap sehat dan segar dalam menjalani setiap aktivitas sehari-hari. Check this out!
1. Olahraga teratur
Untuk membuat badan tetap sehat dan fresh, olahraga merupakan opsi yang bisa kita pilih. Kita bisa bermain bola, tenis, atau bahkan hanya sekedar berjalan kaki. Menjaga metabolisme tubuh dengan mengeluarkan keringat melalui olahraga secara teratur dapat membuat tubuh kita tetap bugar. 

2. Konsumsi makanan sehat
Makan adalah salah satu kebutuhan tiap orang. Kita tidak akan bisa hidup tanpa makan. Dan untuk menjaga kesehatan tubuh kita, mengkonsumsi makanan yang sehat dapat membantu mewujudkannya. Sayur dan buah serta makanan yang higienis tentu memberikan peran dalam menjaga kebugaran tubuh dan menghindarkan diri dari kuman dan penyakit.

3. Minum air putih
Memang air putih tidak pernah lepas dari daftar menu makanan tiap hari. Air putih dapat melancarkan metabolisme tubuh dan membuat tubuh kita tidak kekurangan cairan / dehidrasi. Air putih juga turut membantu dalam proses pembuangan sisa-sisa makanan dalam tubuh. Sebaiknya kita minum air putih minimal 8 gelas / 1,5 Liter per hari.

4. Istirahat cukup
Dalam menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat, kita juga harus memperhatikan waktu istirahat. Istirahat yang cukup dapat mengembalikan performa tubuh sekaligus mengurangi rasa lelah setelah menjalani aktivitas seharian penuh. Istirahat yang baik yaitu tidur antara 5 sampai 7 jam. Kurang atau lebih dari itu justru tidak baik bagi tubuh.

Jumat, 25 Februari 2011

Sekilas tentang Bisnis

           Bisnis adalah salah satu usaha yang dilakukan seseorang untuk mencari keuntungan. Bisnis juga dapat didefinisikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau lebih dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan atau laba 
            Bisnis bisa dilakukan oleh remaja, tak hanya orang dewasa. Sekarang sudah banyak bacaan yang membahas tentang bisnis yang bisa dilakukan oleh remaja. Hal ini semakin diperkuat dengan maraknya bacaan yang mengajak para remaja untuk mulai berusaha. Fakta ini menunjukkan bahwa dukungan informasi untuk remaja yang ingin berbisnis terbuka dengan sangat lebar.
     

Kamis, 30 September 2010

Mahalnya Aset Kejujuran

          Upacara pengibaran bendera adalah salah satu hal yang lumrah dilakukan di tiap sekolah di Indonesia, tak terkecuali sekolah saya. Namun pada upacara hari itu, ada satu persoalan yang mengusik batin saya, yang kemudian telah saya tuliskan menjadi bacaan yang saat ini sedang Anda baca. Yang mengusik logika saya adalah isi dari amanat pembina upacara, yang pada waktu itu disampaikan oleh guru Matematika SMA Negeri 17 Palembang, Pak Udni, S.Pd. Beliau mengangkat topik tentang fenomena kejujuran yang merajalela di negeri tercinta.
          Pagi itu, beliau mengawali amanat dengan mengajak peserta upacara untuk mengingat kembali pelaksanaan Ujian Nasional tahun kemarin. Beliau berkata, "Betapa mahalnya kejujuran di Indonesia saat ini. Coba kita ingat dan renungkan kembali. Pelaksanaan Ujian Nasional tiap tahunnya menyerap perhatian yang tidak sedikit dari pemerintah maupun pihak keamanan. Pemerintah menginginkan semua peserta ujian berlaku jujur dalam menjawab soal, sehingga kelak akan mampu bersaing di zaman globalisasi".
          "Untuk menindaklanjuti persoalan kejujuran peserta ujian, pemerintah mengutus pihak keamanan (dalam hal ini dari kepolisian) untuk mengawas pelaksanaan Ujian Nasional di tiap sekolah di Indonesia, yang jumlah sekolahnya berjumlah jutaan dan tersebar dari Sabang sampai Merauke," sambung beliau menyeret kami ke dalam inti yang akan dijelaskannya.
          Beliau menarik nafas sejenak, sembari memandang peserta upacara dengan seksama.
          "Nah, sebagai guru Matematika, kita tentu sudah belajar konsep logika. Dalam logika, kita dihadapkan dengan hitung-hitungan yang berdasarkan dengan realita yang terjadi. Dalam hal ini mari kita terjun ke alam pikiran kita. Jika dalam satu pelaksanaan Ujian Nasional terdapat 100 ribu sekolah yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, dan dalam tiap sekolah ditugaskan seorang anggota keamanan oleh pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan ujian tersebut, berarti ada 100 ribu angggota keamanan yang berjaga di tiap sekolah".
          "Kemudian bila tiap orang anggota keamanan diberikan uang transpor dan uang makan sebesar Rp. 100.000,- saja, berarti ada Rp. 10.000.000.000,- (10M!) yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk "upah" mengawasi kejujuran dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Bayangkan, 10 Milliar! Saya yakin kalau dana sebanyak ini dialihkan untuk pemerataan desa-desa, tentu perkembangan dan kemajuan Indonesia akan semakin cepat" jelas beliau menggebu-gebu.
          "Sebenarnya dana sebesar ini tidak perlu dikeluarkan bila semua warga Indonesia berlaku jujur. Inilah salah satu contoh nyata yang menunjukkan betapa mahalnya aset kejujuran bangsa ini". 
          "Oleh karena itu, marilah kita sebagai warga yang cinta terhadap bangsa dan peduli terhadap kemajuan negara, berlakulah jujur! Sekarang sudah banyak orang yang pintar! Namun sangat sulit untuk menemukan orang yang jujur. Percaya tidak percaya, inilah realita yang terjadi!"
          Itulah kira-kira kalimat yang diucapkan beliau. Kita dapat mengambil makna dan pesan yang tersimpan dalam amanat beliau. Bahwa harga dari aset kejujuran yang berada di dalam diri masyarakat kini sudah sangat-sangat mahal. Setuju?

Sabtu, 28 Agustus 2010

Ada Usaha, Ada Jalan

          Alhamdulillah, hari ini saya sangat bersyukur kepada Allah swt., dimana pada hari ini usia part time saya di XPressi Sumatera Ekspress Palembang sudah genap 4 bulan. Tak terasa waktu berlalu, tak terasa keringat diseka. Banyak lika-liku dan ilmu yang telah saya lalui selama 4 bulan ini. Alhamdulillah. 
          Memang sebenarnya, 4 bulan adalah waktu yang sangat singkat bila dipandang dan diukur dalam takaran dalam setiap tingkat kemampuan kebanyakan orang. Bahkan 4 bulan juga masih belum bisa dianggap sudah ndalem, belum mengerti bagaimana rasanya pahit-manis seorang pemuda yang bekerja dalam lingkup part time. 
          Namun disini saya hanya ingin mengajak pembaca, khususnya yang satu pemikiran dengan saya, bahwa kemauan kuat yang disertai bukti nyata akan membawa Anda “terbang” menuju impian Anda. Seperti salah satu judul buku yang mengatakan “Man Jadda Wa Jadda, dimana ada kemauan dan usaha keras, disitu akan datang suatu pencapaian”. 
          Sekali lagi, memang momen ini sungguh sepele, dan (bahkan) terkesan melebih-lebihkan. “Baru 4 bulan kok lebai?”, kurang lebih diibaratkan seperti itu. Saya sangat berharap, janganlah melihat tulisan ini sebagai salah satu proses yang mengarah kesana, tapi marilah kita anggap tulisan ini sebagai sebuah masukan singkat dalam catatan perjalanan hidup Anda. 
          Bila ditarik garis waktu sepanjang kurang lebih 4 bulan yang lalu, saya hanyalah seorang pelajar yang “tiba-tiba” tertarik untuk menulis. Anda akan menemui saya sebagai pelajar yang pendiam dan tidak suka berbahasa, pada waktu itu. Namun semuanya kini berbalik 180’. Saya yang semula malas berargumen kini lebih menggelora setelah membaca nasihat dari Pramoedya Ananta Noer, yang mengatakan bahwa menulis adalah salah satu kegiatan sosial. 
          Saya yang dahulu malas berbahasa kini sangat tertarik dengan proses berbahasa, setelah mendalami pesan dari salah satu guru bahasa Indonesia saya, Pak Arpin. Beliau mengatakan bahwa bahasa adalah alat penyambung dari semua kalangan, baik yang berbeda maupun sejenis. Saya sungguh meresapi kalimat-kalimat mereka di atas. Subhanallah. Namun akhirnya saya “terpancing” oleh buku karya Bambang Trim (Menggagas Buku), untuk belajar menuliskan opini dan pemecahan yang saya tawarkan ke dalam bentuk tulisan. Saya langsung bergegas membekali diri dengan segala kesempatan dan karunia yang ada untuk saya jadikan “modal” dalam menulis. Tanpa menunda-nunda waktu, dan Alhamdulillah saya tidak terganggu oleh buaian impian yang semu belaka. 
          Dua bulan setelah saya membaca buku Bambang Trim, saya memutuskan untuk terjun langsung ke sebuah “tempat nyata”, dimana saya dilatih dan diajak untuk merasakan asinnya garam selama berkutat dengan dunia tulis menulis. Saya pun melamar kesana kesini. Alhamdulillah ternyata Allah memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan XPressi Sumatera Ekspress Palembang. 
          Tak usah saya bercerita panjang lebar tentang bagaimana dan apa rasanya ketika proses seleksi menjadi crew XPressi. Namun saya akan bercerita sedikit tentang bagaimana asiknya menjadi penulis part time. 
          Menjadi penulis part time dalam sebuah surat kabar adalah salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang ada pada setiap calon penulis. Kita akan dilatih untuk bekerja disiplin, mengerti tujuan dari tulisan yang kita buat, dan lain sebagainya. Berbagai ilmu bisa kita serap, apalagi yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Kita (akan) bertemu orang-orang yang sudah lama terjun ke dunia kepenulisan, khususnya dalam bentuk informasi atau berita. 
          Siapa sangka saya bisa bertemu dengan Direktur Harian Sumatera Ekspress dengan menyandang status “penulis” yang masih pelajar? Saya tidak pernah menyangka. Saya juga tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya akan dibaca, dan tembus dari “meja” redaksi Sumatera Ekspress. Padahal “meja” itu terkesan asing bagi saya yang mulanya seorang pelajar awam dan biasa saja. Siapa bisa menduga? Anda tentu akan beranggapan seperti “Ah, kan emang udah nasibnya diterima disitu”. Yang saya maksudkan disini, selain atas izin Allah, juga diperlukan usaha yang keras dan tidak setengah-setengah. Bila Anda ingin menjadi seorang penulis (yang notabene paling mudah dan tanpa persyaratan), maka segeralah lakukan hal yang berhubungan dengan itu. Jangan tunda lagi dan hanya terbuai mimpi untuk menerbitkan karya yang akan dibaca banyak orang. Semuanya tidak akan seinstant menggambar sebuah rumah di atas kertas. 
          Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda penerus bangsa yang cemerlang dan penuh dengan perubahan positif untuk segera menempa diri dalam mencapai keinginan masing-masing. Latihlah diri untuk terbiasa dan “terpancing” dengan cita-cita Anda. Jangan hanya ikut-ikutan alias tidak punya pendirian. Lakukan hal yang berhubungan dengan cita-cita Anda. 
          Saya sendiri telah memutuskan untuk tidak menjadi seorang sastrawan. Namun saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjadi seorang yang mampu berbahasa dengan baik. Karena apabila telah menguasai skill berbahasa, mengubahnya menjadi bentuk tulisan bukanlah perkara sulit. Usaha keras dan tekad pantang menyerah akan merobohkan rintangan yang menghadang. 
          Jangan takut untuk mencoba. Galilah potensi yang ada dalam diri Anda, dan segera tentukan masa depan Anda sedini mungkin. Jangan lupa tetap dan selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa, agar selalu diberi lindungan dan kemudahan oleh-Nya. Amin. 
          Sebagai tambahan, marilah bersama kita simak kalimat dari salah satu atasan saya, yaitu Mas Karsono selaku Pelaksana Harian Sumatera Ekspress. “Kita disini dilatih untuk terjun langsung ke dunia kerja. Silahkan rasakan dan serap pelajaran sebanyak-banyaknya selama kalian bekerja disini, karena akan bermanfaat kelak ketika kalian sudah bekerja secara mandiri. Sehingga kalian tidak akan kaget atau terkejut lagi ketika sudah memasuki dunia kerja. Kerjanya ya cuma itu-itu doang. Semuanya tergantung ketahanan diri dan motivasi kita, apakah kita menyikapinya sebagai sebuah rintangan kemudian merasa susah, atau menganggapnya sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri kemudian merasa enjoy dalam bekerja. Semuanya ada di tangan kalian kelak. Oleh karena itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk mencapai cita-cita kalian. Kalau bisa, lakukan yang terbaik dalam setiap aktivitas. Jangan tanggung-tanggung dan ragu-ragu. Percaya diri itu penting loh,”.

Selasa, 17 Agustus 2010

Etika Berbangsa yang Kian Transparan


          Bangsa “Merah-Putih” adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari bermacam ras, suku bangsa, dan agama. Negara Indonesia adalah negara yang ‘’gemuk’’, “gemuk” akan kebudayaan dan kuliner. Jamrud khatulistiwa juga ambil bagian dalam perkembangan dan kemajuan dunia, baik kemajuan sumber daya alam , sumber daya manusia, maupun dalam bidang teknologi. Itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
          Tanggal 28 Oktober 1928, seluruh pemuda dari segala penjuru negeri bergabung menjadi satu untuk bersumpah, menjadikan mereka menjadi satu bangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Rela menggunakan bahasa persatuan yang utuh, bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kesatuan dan kekerasan tekad rakyat Indonesia.
          Sejak peristiwa itu, Indonesia semakin berkembang dan telah menciptakan etika tersendiri yang tersebar luas di mata Internasional. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai warga yang sopan, santun dan ramah. Kita lihat saja contoh nyatanya ketika masyarakat Indonesia sedang pergi menunaikan ibadah haji. Warga Indonesia tidak akan segan (apalagi marah) ketika ada seorang warga asing yang ingin ikut menumpang bus rombongan Indonesia. Namun hal ini berkebalikan dengan negara-negara lain, yang akan langsung menolak ketika ada warga asing yang ingin menumpang bus rombongan mereka. Hal ini menunjukkan betapa beretikanya masyarakat Indonesia.
          Namun tujuh puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1998, berkibarlah bendera kebebasan dan keleluasaan, yang kita sebut-sebut sebagai bendera “Reformasi”. Di bawah naungan bendera ini, muncul berbagai konsep yang berkembang luas di masyarakat. Rakyat tak segan menyuarakan pendapat, dan rakyat tak segan untuk mengkritik (bahkan mencaci) kepala negaranya. Hal ini sungguh di luar kendali dari konteks “Reformasi” sesungguhnya yang diusung tahun 1998.

Pengabaian Etika

          Menurut Benny Susetyo (Memperkokoh Etika Berbangsa), sebagian besar masyarakat, atau bahkan pemerintah, kurang memperhatikan persoalan etika. Salah satu contoh konkrit yang dapat kita temui dan cermati melalui berbagai media massa adalah, rakyat yang berdemo atau berunjuk rasa tidak lagi ragu untuk menginjak (bahkan membakar) foto/gambar kepala negaranya sendiri. Padahal jelas-jelas, presiden atau kepala negara adalah orang yang Very Very Important Person (VVIP) di dalam suatu negara. Hal ini termaktub dalam Undang-undang Nomor: 8 tahun 1987 tentang protokol yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah No: 62 tahun 1990. Undang-undang dan PP tersebut mengatur tentang tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan serta perlakukan terhadap seseorang sesuai kedudukan dan martabat jabatannya dalam negara, pemerintahan dan masyarakat. Jelas hal ini tidak menggambarkan etika yang sebenarnya terhadap seorang pemimpin.
          Contoh di atas menunjukkan bahwa etika rakyat terhadap pemimpin bangsanya sudah sangat jauh merosot. Tidak ada keraguan untuk mengkritik dan mencampuri urusan pemerintahan. Demokrasi yang berlebihan justru mengalahkan negara pelopor dari demokrasi itu sendiri, yaitu United States of America (USA).
         Mereka yang ingin menyuarakan pendapat dan aspirasinya, tentu telah diberi kebebasan oleh pemerintah. Namun penyampaian itu tetap diatur di dalam Undang-Undang dan PP lainnya. Hal yang berkenaan tentang kebebasan berpendapat ini tercantum di dalam pasal 28 UUD 1945, yaitu “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Namun peraturan ini disalahartikan oleh banyak masyarakat Indonesia. Mereka yang berdemo secara berlebihan dengan melecehkan pemimpin negara mereka, atau bahkan merusak fasilitas umum yang berada disekitarnya, dapat dipastikan bahwa mereka telah salah tafsir dalam mengartikan kebebasan yang sesungguhnya.
          Kebebasan menyuarakan pendapat haruslah yang beretika dan bertanggung jawab. Namun sekarang etika dan tanggung jawab ketika “bersuara” sering diabaikan. Salah satu akibat yang sering terjadi adalah sering adanya bentrok antara massa dengan pihak keamanan. Tak jarang timbul korban dalam peristiwa yang malah makin memperkeruh persoalan ini. Apakah hal ini dilakukan karena kecintaan mereka terhadap negeri? Saya rasa terlalu berlebihan.
          Masyarakat Indonesia di era reformasi justru lebih “buas” dan “liar”. Hal ini bisa kita lihat ketika anggota DPR melakukan sidang terbuka. Kebersamaan dan rasa persatuan dipisahkan oleh martabat dan kekuasaan. Tak lagi mendasari beragam keputusan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sungguh membuat etika berbangsa kita semakin transparan.
Kebebasan, Etika, dan HAM 
          Etika berbangsa masyarakat Indonesia yang cenderung menipis telah dibicarakan dan dirundingkan dalam berbagai pertemuan maupun seminar. Hal itu dilakukan untuk menemukan pemecahan masalah dari persoalan ini. Namun kebanyakan, suara yang timbul dari kegiatan semacam ini malah sedikit sekali yang direspon oleh pemerintah. Sehingga seorang Pong Harjatmo, dengan berani menuliskan aspirasinya di atap gedung DPR-MPR yang bertuliskan “JUJUR, ADIL, TEGAS”. Tindakan ini dilakukan atas kekecewaan seorang warga yang menginginkan perbaikan di dalam pemerintahan.
           Tindakan ini kembali menimbulkan polemik. Ada 3 hal yang beradu dalam peristiwa ini, yaitu kebebasan, etika, dan HAM. Kebebasan seorang Pong untuk menyampaikan aspirasinya mengantarkan ia ke atas atap gedung "Kura-Kura". HAM seorang Pong untuk menyuarakan suaranya tertera jelas dan dapat di baca di atap gedung DPR-MPR, yang ditulis menggunakan cat. Namun etika seorang Pong dalam menyampaikan pendapat sepertinya kurang bisa diberi apresiasi. Mungkin ia tidak lagi memikirkan etika ketika hatinya sudah menggelora.
          Dilema ini pula yang muncul di dalam masyarakat. Mereka seolah tak puas dengan pemerintahan zaman sekarang. Kebebasan yang sesungguhnya “dibelokkan” oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh semakin mempertegas kekaburan dari etika di Indonesia.
           Kebebasan, etika, dan HAM saling beradu. Sulit menemukan pemecahan yang dicampuri oleh ketiga unsur ini. Karena sebenarnya, ketiga unsur ini memiliki makna yang saling bertabrakan. Kita tidak bisa mengorbankan salah satu dari tiga unsur ini, namun untuk menyeimbangkan ketiga hal ini sangatlah sulit dan rumit.

Nasib Indonesia
          
Bagaimana kelak nasibmu, wahai Bumi Pertiwi? Apakah rakyatmu akan larut dalam euforia kebebasan tanpa mengedepankan tanggung jawab dan kepekaan sosial? Siapa dan apakah yang sanggup merubah pandangan ini? Apakah kami harus menunggu seorang pahlawan muncul ditengah kekacauan dan dilema ini? Jika ya, maka antarkanlah segera ia kemari. Karena kami sudah tak sanggup menanggulangi negeri ini!
          Indonesia, menurut pandangan saya, akan menjadi negara yang multi-bebas dalam aspek aspirasional. Segala tindakan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat akan dicampuri oleh tangan-tangan rakyat. Memang Indonesia adalah negara yang demokrasi, yang menempatkan rakyat sebagai kekuasaan tertinggi dalam membuat keputusan. Tapi kan tidak setiap keputusan harus dicampuri oleh celotehan rakyat. Justru ini akan memperlambat proses kerja pemerintah.
           Pemerintah yang merasa memiliki etika kebangsaan yang tinggi juga harus menyadari persoalan ini, bahwa tanpa demo dan unjuk rasa dari masyarakat, mereka telah mampu mengerti apa yang mesti dilakukan untuk masyarakat. Jangan hanya mempertebal kantong dan menimbun materi sebanyak-banyaknya. Mereka yang seperti inilah yang sebaiknya dimusnahkan dari Bumi Pertiwi. Namun, kita sebagai masyarakat biasa hanya bisa menonton mereka yang perutnnya semakin membuncit. Tak banyak yang bisa kita lakukan. Menyuarakan aspirasi melalui berbagai media seperti yang dilakukan Pong saja tidak diindahkan, apalagi kita yang hanya sekedar berpendapat. Atau Anda mau seperti Pong? Menuliskan suaranya secara langsung di atap gedung DPR-MPR? Silahkan dicoba, siapa tahu direspon oleh pemerintah.
           Akankah Tanah Air yang mulai “keruh” ini, dapat kembali menjadi Nusantara yang bersih dan bening? Entahlah.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Lingkungan Hidup


Definisi Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.
Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Hidup
Indonesia termasuk dalam perjanjian: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi, Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83, Perkayuan Tropis 94, Dataran basah, Perubahan Iklim - Protokol Kyoto (UU 17/2004), Perlindungan Kehidupan Laut (1958) dengan UU 19/1961.

Pencemaran lingkungan hidup di Indonesia

Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor,limbah industri, limbah pariwisata, limbah rumah sakit.
Masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara.

Limbah Rumah Sakit

Merupakan hasil dari pemakaian peralatan kesehatan padat dan cair, bahan kimia dan bagian dari tubuh manusia yang tidak dapat digunakan lagi. Unit penghasil limbah di rumahsakit adalah semua unit yang menghasilkan limbah seperti loundri, dapur, unit kamar operasi, laboratorium, unit radiologi, apotek/farmasi, perkantoran, kantin dan lain sebagainya. pengolahan limbah padat dan cair dapat dilakukan dengan cara kimiawi dan cara tradisional, tetapi dalam standarisasinya menggunakan incenarator.

Pencemaran air
 adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.