Minggu, 09 Januari 2011

Indonesiaku Kini


Indonesiaku Kini
Oleh: Ahmad Doni Meidianto



Bagaimana kabarmu saat ini, duhai Bumi Pertiwi?
Sehat sentosa, atau sengsara mencekam?
Dilema sedang berkeliling ke mana-mana
Menghantui setiap darah dan emosi yang ada
Itulah jawabannya!

Di luar sana sering terjadi bencana
Saudara sebangsa banyak yang binasa
Ada apa wahai Tuhan?
Apakah semua kini sudah gawat?
           
Disisi lain koruptor semakin menggila
Mempermainkan hukum layaknya sebuah  boneka
Begitu banyak yang termakan tipu daya
Tak sedikit yang terhasut dengan kehidupan dunia

Air mata mengalir deras
Mengalir dari saudara-saudara yang tertindas
Akibat kekuasaan orang gila yang semakin mengganas
Membuat hati ini kian memanas

Sungguh kasihan nasibmu kini, wahai Jamrud khatulistiwa
Saatnya menyalakan cahaya di tengah keburaman
Mencari secercah harapan di tengah kegalauan
Untuk membangun kembali Merah Putih yang cemerlang

Negeri ini sedang dilanda krisis
Krisis yang sepertinya sulit untuk dihilangkan
Tak ubahnya benalu yang melingkupi sumber pangan
Kemana perginya kejujuran?
Tak adakah yang melestarikan aset pemberian Yang Maha Kuasa ini?

Kini saatnya kita berbenah
Membangun kembali karunia yang sudah mulai punah
Jika bukan kita, maka siapa yang akan membentengi Nusantara?
Siapa yang akan membangun Indonesia?
Kita semua!

Kamis, 30 September 2010

Mahalnya Aset Kejujuran

          Upacara pengibaran bendera adalah salah satu hal yang lumrah dilakukan di tiap sekolah di Indonesia, tak terkecuali sekolah saya. Namun pada upacara hari itu, ada satu persoalan yang mengusik batin saya, yang kemudian telah saya tuliskan menjadi bacaan yang saat ini sedang Anda baca. Yang mengusik logika saya adalah isi dari amanat pembina upacara, yang pada waktu itu disampaikan oleh guru Matematika SMA Negeri 17 Palembang, Pak Udni, S.Pd. Beliau mengangkat topik tentang fenomena kejujuran yang merajalela di negeri tercinta.
          Pagi itu, beliau mengawali amanat dengan mengajak peserta upacara untuk mengingat kembali pelaksanaan Ujian Nasional tahun kemarin. Beliau berkata, "Betapa mahalnya kejujuran di Indonesia saat ini. Coba kita ingat dan renungkan kembali. Pelaksanaan Ujian Nasional tiap tahunnya menyerap perhatian yang tidak sedikit dari pemerintah maupun pihak keamanan. Pemerintah menginginkan semua peserta ujian berlaku jujur dalam menjawab soal, sehingga kelak akan mampu bersaing di zaman globalisasi".
          "Untuk menindaklanjuti persoalan kejujuran peserta ujian, pemerintah mengutus pihak keamanan (dalam hal ini dari kepolisian) untuk mengawas pelaksanaan Ujian Nasional di tiap sekolah di Indonesia, yang jumlah sekolahnya berjumlah jutaan dan tersebar dari Sabang sampai Merauke," sambung beliau menyeret kami ke dalam inti yang akan dijelaskannya.
          Beliau menarik nafas sejenak, sembari memandang peserta upacara dengan seksama.
          "Nah, sebagai guru Matematika, kita tentu sudah belajar konsep logika. Dalam logika, kita dihadapkan dengan hitung-hitungan yang berdasarkan dengan realita yang terjadi. Dalam hal ini mari kita terjun ke alam pikiran kita. Jika dalam satu pelaksanaan Ujian Nasional terdapat 100 ribu sekolah yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, dan dalam tiap sekolah ditugaskan seorang anggota keamanan oleh pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan ujian tersebut, berarti ada 100 ribu angggota keamanan yang berjaga di tiap sekolah".
          "Kemudian bila tiap orang anggota keamanan diberikan uang transpor dan uang makan sebesar Rp. 100.000,- saja, berarti ada Rp. 10.000.000.000,- (10M!) yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk "upah" mengawasi kejujuran dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Bayangkan, 10 Milliar! Saya yakin kalau dana sebanyak ini dialihkan untuk pemerataan desa-desa, tentu perkembangan dan kemajuan Indonesia akan semakin cepat" jelas beliau menggebu-gebu.
          "Sebenarnya dana sebesar ini tidak perlu dikeluarkan bila semua warga Indonesia berlaku jujur. Inilah salah satu contoh nyata yang menunjukkan betapa mahalnya aset kejujuran bangsa ini". 
          "Oleh karena itu, marilah kita sebagai warga yang cinta terhadap bangsa dan peduli terhadap kemajuan negara, berlakulah jujur! Sekarang sudah banyak orang yang pintar! Namun sangat sulit untuk menemukan orang yang jujur. Percaya tidak percaya, inilah realita yang terjadi!"
          Itulah kira-kira kalimat yang diucapkan beliau. Kita dapat mengambil makna dan pesan yang tersimpan dalam amanat beliau. Bahwa harga dari aset kejujuran yang berada di dalam diri masyarakat kini sudah sangat-sangat mahal. Setuju?

Sabtu, 28 Agustus 2010

Ada Usaha, Ada Jalan

          Alhamdulillah, hari ini saya sangat bersyukur kepada Allah swt., dimana pada hari ini usia part time saya di XPressi Sumatera Ekspress Palembang sudah genap 4 bulan. Tak terasa waktu berlalu, tak terasa keringat diseka. Banyak lika-liku dan ilmu yang telah saya lalui selama 4 bulan ini. Alhamdulillah. 
          Memang sebenarnya, 4 bulan adalah waktu yang sangat singkat bila dipandang dan diukur dalam takaran dalam setiap tingkat kemampuan kebanyakan orang. Bahkan 4 bulan juga masih belum bisa dianggap sudah ndalem, belum mengerti bagaimana rasanya pahit-manis seorang pemuda yang bekerja dalam lingkup part time. 
          Namun disini saya hanya ingin mengajak pembaca, khususnya yang satu pemikiran dengan saya, bahwa kemauan kuat yang disertai bukti nyata akan membawa Anda “terbang” menuju impian Anda. Seperti salah satu judul buku yang mengatakan “Man Jadda Wa Jadda, dimana ada kemauan dan usaha keras, disitu akan datang suatu pencapaian”. 
          Sekali lagi, memang momen ini sungguh sepele, dan (bahkan) terkesan melebih-lebihkan. “Baru 4 bulan kok lebai?”, kurang lebih diibaratkan seperti itu. Saya sangat berharap, janganlah melihat tulisan ini sebagai salah satu proses yang mengarah kesana, tapi marilah kita anggap tulisan ini sebagai sebuah masukan singkat dalam catatan perjalanan hidup Anda. 
          Bila ditarik garis waktu sepanjang kurang lebih 4 bulan yang lalu, saya hanyalah seorang pelajar yang “tiba-tiba” tertarik untuk menulis. Anda akan menemui saya sebagai pelajar yang pendiam dan tidak suka berbahasa, pada waktu itu. Namun semuanya kini berbalik 180’. Saya yang semula malas berargumen kini lebih menggelora setelah membaca nasihat dari Pramoedya Ananta Noer, yang mengatakan bahwa menulis adalah salah satu kegiatan sosial. 
          Saya yang dahulu malas berbahasa kini sangat tertarik dengan proses berbahasa, setelah mendalami pesan dari salah satu guru bahasa Indonesia saya, Pak Arpin. Beliau mengatakan bahwa bahasa adalah alat penyambung dari semua kalangan, baik yang berbeda maupun sejenis. Saya sungguh meresapi kalimat-kalimat mereka di atas. Subhanallah. Namun akhirnya saya “terpancing” oleh buku karya Bambang Trim (Menggagas Buku), untuk belajar menuliskan opini dan pemecahan yang saya tawarkan ke dalam bentuk tulisan. Saya langsung bergegas membekali diri dengan segala kesempatan dan karunia yang ada untuk saya jadikan “modal” dalam menulis. Tanpa menunda-nunda waktu, dan Alhamdulillah saya tidak terganggu oleh buaian impian yang semu belaka. 
          Dua bulan setelah saya membaca buku Bambang Trim, saya memutuskan untuk terjun langsung ke sebuah “tempat nyata”, dimana saya dilatih dan diajak untuk merasakan asinnya garam selama berkutat dengan dunia tulis menulis. Saya pun melamar kesana kesini. Alhamdulillah ternyata Allah memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan XPressi Sumatera Ekspress Palembang. 
          Tak usah saya bercerita panjang lebar tentang bagaimana dan apa rasanya ketika proses seleksi menjadi crew XPressi. Namun saya akan bercerita sedikit tentang bagaimana asiknya menjadi penulis part time. 
          Menjadi penulis part time dalam sebuah surat kabar adalah salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang ada pada setiap calon penulis. Kita akan dilatih untuk bekerja disiplin, mengerti tujuan dari tulisan yang kita buat, dan lain sebagainya. Berbagai ilmu bisa kita serap, apalagi yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Kita (akan) bertemu orang-orang yang sudah lama terjun ke dunia kepenulisan, khususnya dalam bentuk informasi atau berita. 
          Siapa sangka saya bisa bertemu dengan Direktur Harian Sumatera Ekspress dengan menyandang status “penulis” yang masih pelajar? Saya tidak pernah menyangka. Saya juga tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya akan dibaca, dan tembus dari “meja” redaksi Sumatera Ekspress. Padahal “meja” itu terkesan asing bagi saya yang mulanya seorang pelajar awam dan biasa saja. Siapa bisa menduga? Anda tentu akan beranggapan seperti “Ah, kan emang udah nasibnya diterima disitu”. Yang saya maksudkan disini, selain atas izin Allah, juga diperlukan usaha yang keras dan tidak setengah-setengah. Bila Anda ingin menjadi seorang penulis (yang notabene paling mudah dan tanpa persyaratan), maka segeralah lakukan hal yang berhubungan dengan itu. Jangan tunda lagi dan hanya terbuai mimpi untuk menerbitkan karya yang akan dibaca banyak orang. Semuanya tidak akan seinstant menggambar sebuah rumah di atas kertas. 
          Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda penerus bangsa yang cemerlang dan penuh dengan perubahan positif untuk segera menempa diri dalam mencapai keinginan masing-masing. Latihlah diri untuk terbiasa dan “terpancing” dengan cita-cita Anda. Jangan hanya ikut-ikutan alias tidak punya pendirian. Lakukan hal yang berhubungan dengan cita-cita Anda. 
          Saya sendiri telah memutuskan untuk tidak menjadi seorang sastrawan. Namun saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjadi seorang yang mampu berbahasa dengan baik. Karena apabila telah menguasai skill berbahasa, mengubahnya menjadi bentuk tulisan bukanlah perkara sulit. Usaha keras dan tekad pantang menyerah akan merobohkan rintangan yang menghadang. 
          Jangan takut untuk mencoba. Galilah potensi yang ada dalam diri Anda, dan segera tentukan masa depan Anda sedini mungkin. Jangan lupa tetap dan selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa, agar selalu diberi lindungan dan kemudahan oleh-Nya. Amin. 
          Sebagai tambahan, marilah bersama kita simak kalimat dari salah satu atasan saya, yaitu Mas Karsono selaku Pelaksana Harian Sumatera Ekspress. “Kita disini dilatih untuk terjun langsung ke dunia kerja. Silahkan rasakan dan serap pelajaran sebanyak-banyaknya selama kalian bekerja disini, karena akan bermanfaat kelak ketika kalian sudah bekerja secara mandiri. Sehingga kalian tidak akan kaget atau terkejut lagi ketika sudah memasuki dunia kerja. Kerjanya ya cuma itu-itu doang. Semuanya tergantung ketahanan diri dan motivasi kita, apakah kita menyikapinya sebagai sebuah rintangan kemudian merasa susah, atau menganggapnya sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri kemudian merasa enjoy dalam bekerja. Semuanya ada di tangan kalian kelak. Oleh karena itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk mencapai cita-cita kalian. Kalau bisa, lakukan yang terbaik dalam setiap aktivitas. Jangan tanggung-tanggung dan ragu-ragu. Percaya diri itu penting loh,”.