Rabu, 02 Juni 2010

The Girls Of Riyadh


Judul             : The Girls Of Riyadh
Penulis          : Rajaa Al Sanea
Penerbit        : Ufuk Press
Kota Terbit   : Jakarta
Tahun Terbit : 2008
Halaman       : 408 halaman
 ...........................................................................................................
Oleh             : Rizky Putri Pratiwi
                      SMA Plus Negeri 17 Palembang
............................................................................................................
Semuanya berawal dari surat elektronik (e-mail) yang dikirim seorang perempuan misterius. Setiap Jumat siang, e-mail yang terkirim menjadi magnet yang mampu menarik perhatian masyarakat di pclosok negeri. Hampir setiap minggu, penulis misterius itu mengunjungi para pembaca dengan perkembangan terbaru dari setiap peristiwa. Sabtu pagi, fenomena ini telah mengubah kantor-kantor pemerintah, aula perguruan tinggi, teras rumah sakit, dan kelas di sekolah menjadi ruang diskusi tentang e-mail terakhir.

Meskipun sang penulis (awalnya) menyembunyikan identitas, pada akhirnya ia membuka diri. Nama tokoh dalam cerita itu ditulis dengan gamblang. Semua tabir yang selama ini tertutup, dirahasiakan, dan sulit dibicarakan, dia bongkar. Dia kisahkan dengan apik pelanggaran semua tradisi Arab Saudi yang terkenal keras dengan
adat istiadatnya.

Maka, terkuaklah kisah kehidupan empat sahabat yang semi-eksklusif di tengah pergaulan masyarakat Arab: Qamrael-Qashmany, Shedimd-Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle -Abdul Rahman. Kisah yang diungkap Rajaa bukan rekaan, melainkan kisah kehidupan nyata pribadi empat sahabatnya.

Pernikahan Qamra bukan menjadi jaminan hidupnya akan bahagia. Usai menikah, ia bersama sang suami hijrah ke Amerika. Bukan bahagia yang ia peroleh, malah nestapa yang didapat
. Tanpa sengaja, ia mengetahui sang suami memiliki affair dengan. perempuan Jepang. Perempuan yang selama ini menjadi "bank" selama sang suami hidup di tanah orang. Sakit hatinya diungkapkan kepada sang suami. Tapi, apa yang ia dapat  Malah tamparan berulang kali di wajahnya. Ia lantas memilih kembali ke orangtua dengan harapan sang suami meminta maaf dan memintanya kembali. Berbulan menunggu, ia hanya mendapat surat cerai pada saat hamil.

Lain lagi kisah Shedim. Perem­puan ini memilih menyerahkan keperawanannya kepada sang tunangan. la berkeyakinan, tidak akan mendapatkan kepuasan dan persetujuan pasangan bila tidak m
empersembahkan diri seutuhnya. Keputusan Shedim memang tergolong kontroversial. Mengingat, budaya Arab mengharamkan tindakan semacam itu. Jangankan herhubungan intim di luar nikah, berduaan dengan non-muhrim di tempat umum saja, bila tertangkap basah, harus "menginap" di hotel prodeo.
Sial, hubungan kasih Shedim putus. Berbagai pertanyaan pun bergelayut di kepalanya. Apakah menyerahkan diri seutuhnya sebelum menikah merupakan kesalahan dan dosa? Apakah yang terjadi pada malam itu adalah kesalahan? Pertanyaan demi pertanyaan ini hanya berputar di otaknya.

Sementara itu, Lumeis adalah perempuan yang pandai meramal melalui kartu. Kisah cintanya tergolong sederhana dibandingkan dengan sahabatnya. Ia menemukan cinta sejati pada seorang pria yang tak disangka-sangka sebelumnya.

Sedangkan Michelle menemukan perbedaan budaya dalam hubungan cinta, Darah Amerika (dari sang ibu) membuat kisah cintanya tak mulus.

KOMENTAR
Buku ini mengungkapkan betapa sebetulnya tradisi di Arab itu sangat ketat. Perceraian adalah dosa besar bagi perempuan yang diceraikan. Seorang pria Arab harus menuruti semua kemauan keluarga, tcrmasuk menentukan dengan siapa akan menikah.
Masuk ke Arab pun berarti harus menanggalkan "pakaian luar negeri" dan mengenakan baju khusus Arab. Jadi, jangan heran, di setiap toilet bandar udara Arab Saudi terdapat antrean panjang penumpang yang hendak berganti baju. Ya, untuk mcnjalankan tradisi Arab
.
Namun buku yang telah terjual di 25 negara ini mcngungkap dengan gamblang pelanggaran demi pelanggaran atas tradisi itu. Versi asli buku ini diluncurkan dalam bahasa Arab pada 2005. Tak lama setelah itu, buku ini dilarang beredar di Arab Saudi karena isinya yang menghebohkan. Tapi buku ini beredar di pasar-pasar gelap Saudi.

Selasa, 01 Juni 2010

Kala Itu

Suara gemericik hujan kian menderu
Tak pelik seperti rentetan peluru memecah keheningan
Bagai gerusan air yang mempertipis rasa kantukku 
Ku raih sehelai kertas dari atas meja

Ku comot sebuah pena dari dalam laci
Aku pun menulis . . .


Satu kata, dua kata,
Otakku berpikir tajam
Giat mencari kata-kata yang pas saat itu
Hingga suatu ketika batinku terbersit kata 'BOSAN'
Aku pun bergejolak
Batinku berusaha melawan pengaruh darinya
Aku pun kembali menulis . . .


Mengapa aku berjuang menghindari pengaruh 'BOSAN'?
Bosan berarti kejenuhan
Bosan berarti kekalahan
Bosan sama seperti ranjau yang siap menghancurkanmu kapan saja
Sedikit kau terpengaruh, akan diseretnya menuju ambang pemberhentian


Tapi,

Ini hanya berlaku bagiku
Karena bosan sama seperti racun
Musuh dari hal yang kusuka
Yang cermat mengejar cita menyusun asa
Membangun mimpi mencari prestasi
Untuk menjadi seorang PENULIS sejati


Aku pun kembali menulis . . . 
Mencari celah agar rasa kantukku singgah
Karena kala itu waktu sudah sangat larut
Aku ingin istirahat
Sekadar ingin mengembalikan keaktifan otakku
Agar mampu bekerja maksimal di kemudian hari


Hingga tak terasa mataku menjadi berat
Badanku seakan tertindih
Aku pun meletakkan segalanya 
Kemudian beranjak merebahkan diri
Setelah do'a kupanjatkann, aku pun terlelap
Bersatu dengan simfoni, kala itu


Kamis, 27 Mei 2010

Koruptor Tak Tahu Diri

Koruptor Tak Tahu Diri
Karya: Aries Buana
SMA Plus Negeri 17 Palembang

Ucapan manis itu keluar dari mulutmu
Ucapan itu keluar, tapi keringat ini terus mengalir
Aliran itu membuat jutaan penonton ragu akan bantahanmu
Tak seorang pun menapik
Tak seorang pun membelamu
Tak seorang pun menangisimu
karena rakyat tahu apa maksud tetesan itu

                                    Ketika kau di dudukkan di kursi jabatan pertemuan
                                    Dihantam dengan beribu-ribu pertanyaan menusuk
                                    Dihujam dengan tuduhan yang terpuruk
                                    Disudutkan seakan kau yang terburuk
                                    Kau tetap gagah berkata, "Tidak! Aku bukan pelakunya".

Di sisi lain,
kertas bukti terpampang jelas
dengan tinta yang diperjelas
dengan sampul yang diperkeras
tapi, kau tetap bersikeras
"Aku bukan pelakunya"

                                               Suasana memanas
                                               Peserta pertemuan pun kian geram dan gemas
                                               Melihat kau berkelit selalu atas ucapanmu
                                               Tak hanya itu
                                               Rakyat pun bertindak tegas
                                               Meminta keadilan di atas pentas
                                               Meminta kau diberantas
                                               Bagai seekor kutu beras
                                               Yang pantas tuk digilas

    Kami mau sejahtera
    Karena kami rakyat yang setia
    Kami mau menuntut hak
    Karena kami berhak
    Tak gentar kami melawanmu
    Tak rela kami membiarkanmu
    Tertawa saat kami menderita
    Menari saat kami melirih
    Dengan segunung milik kami
    Yang kau kikis setiap hari
    Wahai koruptor tak tahu diri