Jumat, 25 Februari 2011

Sekilas tentang Bisnis

           Bisnis adalah salah satu usaha yang dilakukan seseorang untuk mencari keuntungan. Bisnis juga dapat didefinisikan sebagai serangkaian usaha yang dilakukan satu orang atau lebih dengan menawarkan barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan atau laba 
            Bisnis bisa dilakukan oleh remaja, tak hanya orang dewasa. Sekarang sudah banyak bacaan yang membahas tentang bisnis yang bisa dilakukan oleh remaja. Hal ini semakin diperkuat dengan maraknya bacaan yang mengajak para remaja untuk mulai berusaha. Fakta ini menunjukkan bahwa dukungan informasi untuk remaja yang ingin berbisnis terbuka dengan sangat lebar.
     
           Baca selengkapnya >>>           
        Dalam buku ”Tajir Selagi Muda”, Triani Retno mengatakan bahwa zaman sekarang sudah bukan zamannya lagi remaja mengandalkan subsidi dari orang tua. Remaja saat ini dituntut untuk bersaing secara global dan sehat, tidak hanya mengandalkan pemberian orang tua.  Kita harus mampu untuk mendatangkan uang itu sendiri, bukan sebagai konsumen.
            Perkembangan bisnis yang terjadi lima tahun belakangan sangat hebat. Ribuan bisnis tumbuh setiap hari, ada yang bertahan, namun tak sedikit yang berguguran. Hal ini bisa terjadi karena secara emosional banyak orang yang terpancing untuk menjadi pengusaha setelah mengikuti kursus ”bisnis”. Namun ada juga orang yang tetap berpikir realistis, menimba ilmu sembari mempersiapkan diri.
            Beberapa remaja saat ini sudah ada yang mulai ”mencari” melalui berbagai bidang usaha yang bisa mendatangkan penghasilan tambahan. Ada yang kerja part time, menjadi tukang cuci mobil, waitress, dan berbagai profesi ringan lainnya yang bisa mendatangkan uang, plus mendatangkan pengalaman dan pengetahuan serta teman baru.

            Saatnya yang Muda yang Mandiri
            Kini sudah saatnya para remaja untuk mulai meringankan beban orang tua, terutama dalam memenuhi kebutuhan pribadi. Bukanlah suatu larangan bila ada remaja yang sudah mulai ”berpenghasilan” sendiri di usia sekolah. Ini menunjukkan bahwa mereka telah memiliki kemauan dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru, yang tentunya akan bermanfaat untuk diri mereka sendiri.
            Tetapi bagaimana jika pandangan ini belum bisa diterima oleh orang-orang tua zaman sekarang? Bagaimana jika ada orang tua yang berpendapat bahwa remaja usia sekolah mulai mencari uang adalah sesuatu yang mubazir dilakukan? Inilah beberapa pandangan ”kadaluwarsa” yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan zaman sekarang.
            Sebagai perbandingan, bagi remaja yang ingin masuk kuliah, UI (2006) mematok SPP sebesar Rp. 2.050.000,- per semester dengan uang pangkal berkisar 5-25 juta rupiah. Sedangkan untuk perguruan tinggi lain seperti IPB, ITB, dan Unpad juga mematok SPP per semesternya pada kisaran itu. Ini adalah contoh nyata bahwa beban yang ditanggung orang tua untuk menyekolahkan anaknya tidaklah murah. 
Tidak ada salahnya jika remaja sudah mulai ”berbuat” untuk mulai meringankan beban ekonomi orang tua, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan pribadi. Jika ingin membeli pulsa karena saldo pulsa kita habis, gunakanlah uang sendiri untuk membelinya. Walau kita hanya membeli Rp. 5.000,-, kita sudah mampu meringankan beban orang tua.
Kita tidak perlu lagi meminta-minta kepada orang tua untuk membeli apapun yang sifatnya pribadi, seperti membeli buku bacaan, membeli aksesoris, dan lain sebagainya. Memang tindakan ini kecil dan ”tidak terasa”. Namun ini adalah sebuah pembiasaan baik, mengingat kita dilatih untuk mulai mandiri dan tidak bergantung kepada subsidi dari orang tua. Remaja harus mengerti bahwa mereka juga memiliki kesempatan untuk mengisi penuh dompet tanpa harus merepotkan orang tua.
Menurut salah satu sumber, usia remaja yang sudah tidak lagi menjadi tanggungan orang tua adalah ketika mereka berusia 23 tahun. Sedangkan di Amerika Serikat, pada umumnya remaja sudah mulai dianggap mandiri secara keuangan ketika berusia 17 tahun. Hal ini berbeda dengan Negara Indonesia, yang sepertinya tidak memiliki prinsip dan aturan dasar seperti ini.
Seperti dengan apa yang disampaikan oleh Pak Udni beberapa waktu lalu, Indonesia justru akan menjadi ”kebingungan” melihat maraknya remaja yang hanya mengandalkan subsidi dari orang tua. Dalam literatur Islam, seorang remaja masih menjadi tanggungan orang tua sampai mereka baligh. Bila sudah baligh, maka dikatakan bahwa orang tua tidak ”menanggung” semua kebutuhan si anak, melainkan ”bersedekah”.
Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda penerus bangsa untuk mulai membantu meringankan beban orang tua. Ini juga merupakan salah satu bentuk cinta kasih yang bisa kita kita berikan kepada mereka. Setuju? (*don)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar