Sabtu, 28 Agustus 2010

Ada Usaha, Ada Jalan

          Alhamdulillah, hari ini saya sangat bersyukur kepada Allah swt., dimana pada hari ini usia part time saya di XPressi Sumatera Ekspress Palembang sudah genap 4 bulan. Tak terasa waktu berlalu, tak terasa keringat diseka. Banyak lika-liku dan ilmu yang telah saya lalui selama 4 bulan ini. Alhamdulillah. 
          Memang sebenarnya, 4 bulan adalah waktu yang sangat singkat bila dipandang dan diukur dalam takaran dalam setiap tingkat kemampuan kebanyakan orang. Bahkan 4 bulan juga masih belum bisa dianggap sudah ndalem, belum mengerti bagaimana rasanya pahit-manis seorang pemuda yang bekerja dalam lingkup part time. 
          Namun disini saya hanya ingin mengajak pembaca, khususnya yang satu pemikiran dengan saya, bahwa kemauan kuat yang disertai bukti nyata akan membawa Anda “terbang” menuju impian Anda. Seperti salah satu judul buku yang mengatakan “Man Jadda Wa Jadda, dimana ada kemauan dan usaha keras, disitu akan datang suatu pencapaian”. 
          Sekali lagi, memang momen ini sungguh sepele, dan (bahkan) terkesan melebih-lebihkan. “Baru 4 bulan kok lebai?”, kurang lebih diibaratkan seperti itu. Saya sangat berharap, janganlah melihat tulisan ini sebagai salah satu proses yang mengarah kesana, tapi marilah kita anggap tulisan ini sebagai sebuah masukan singkat dalam catatan perjalanan hidup Anda. 
          Bila ditarik garis waktu sepanjang kurang lebih 4 bulan yang lalu, saya hanyalah seorang pelajar yang “tiba-tiba” tertarik untuk menulis. Anda akan menemui saya sebagai pelajar yang pendiam dan tidak suka berbahasa, pada waktu itu. Namun semuanya kini berbalik 180’. Saya yang semula malas berargumen kini lebih menggelora setelah membaca nasihat dari Pramoedya Ananta Noer, yang mengatakan bahwa menulis adalah salah satu kegiatan sosial. 
          Saya yang dahulu malas berbahasa kini sangat tertarik dengan proses berbahasa, setelah mendalami pesan dari salah satu guru bahasa Indonesia saya, Pak Arpin. Beliau mengatakan bahwa bahasa adalah alat penyambung dari semua kalangan, baik yang berbeda maupun sejenis. Saya sungguh meresapi kalimat-kalimat mereka di atas. Subhanallah. Namun akhirnya saya “terpancing” oleh buku karya Bambang Trim (Menggagas Buku), untuk belajar menuliskan opini dan pemecahan yang saya tawarkan ke dalam bentuk tulisan. Saya langsung bergegas membekali diri dengan segala kesempatan dan karunia yang ada untuk saya jadikan “modal” dalam menulis. Tanpa menunda-nunda waktu, dan Alhamdulillah saya tidak terganggu oleh buaian impian yang semu belaka. 
          Dua bulan setelah saya membaca buku Bambang Trim, saya memutuskan untuk terjun langsung ke sebuah “tempat nyata”, dimana saya dilatih dan diajak untuk merasakan asinnya garam selama berkutat dengan dunia tulis menulis. Saya pun melamar kesana kesini. Alhamdulillah ternyata Allah memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan XPressi Sumatera Ekspress Palembang. 
          Tak usah saya bercerita panjang lebar tentang bagaimana dan apa rasanya ketika proses seleksi menjadi crew XPressi. Namun saya akan bercerita sedikit tentang bagaimana asiknya menjadi penulis part time. 
          Menjadi penulis part time dalam sebuah surat kabar adalah salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang ada pada setiap calon penulis. Kita akan dilatih untuk bekerja disiplin, mengerti tujuan dari tulisan yang kita buat, dan lain sebagainya. Berbagai ilmu bisa kita serap, apalagi yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Kita (akan) bertemu orang-orang yang sudah lama terjun ke dunia kepenulisan, khususnya dalam bentuk informasi atau berita. 
          Siapa sangka saya bisa bertemu dengan Direktur Harian Sumatera Ekspress dengan menyandang status “penulis” yang masih pelajar? Saya tidak pernah menyangka. Saya juga tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya akan dibaca, dan tembus dari “meja” redaksi Sumatera Ekspress. Padahal “meja” itu terkesan asing bagi saya yang mulanya seorang pelajar awam dan biasa saja. Siapa bisa menduga? Anda tentu akan beranggapan seperti “Ah, kan emang udah nasibnya diterima disitu”. Yang saya maksudkan disini, selain atas izin Allah, juga diperlukan usaha yang keras dan tidak setengah-setengah. Bila Anda ingin menjadi seorang penulis (yang notabene paling mudah dan tanpa persyaratan), maka segeralah lakukan hal yang berhubungan dengan itu. Jangan tunda lagi dan hanya terbuai mimpi untuk menerbitkan karya yang akan dibaca banyak orang. Semuanya tidak akan seinstant menggambar sebuah rumah di atas kertas. 
          Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda penerus bangsa yang cemerlang dan penuh dengan perubahan positif untuk segera menempa diri dalam mencapai keinginan masing-masing. Latihlah diri untuk terbiasa dan “terpancing” dengan cita-cita Anda. Jangan hanya ikut-ikutan alias tidak punya pendirian. Lakukan hal yang berhubungan dengan cita-cita Anda. 
          Saya sendiri telah memutuskan untuk tidak menjadi seorang sastrawan. Namun saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjadi seorang yang mampu berbahasa dengan baik. Karena apabila telah menguasai skill berbahasa, mengubahnya menjadi bentuk tulisan bukanlah perkara sulit. Usaha keras dan tekad pantang menyerah akan merobohkan rintangan yang menghadang. 
          Jangan takut untuk mencoba. Galilah potensi yang ada dalam diri Anda, dan segera tentukan masa depan Anda sedini mungkin. Jangan lupa tetap dan selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa, agar selalu diberi lindungan dan kemudahan oleh-Nya. Amin. 
          Sebagai tambahan, marilah bersama kita simak kalimat dari salah satu atasan saya, yaitu Mas Karsono selaku Pelaksana Harian Sumatera Ekspress. “Kita disini dilatih untuk terjun langsung ke dunia kerja. Silahkan rasakan dan serap pelajaran sebanyak-banyaknya selama kalian bekerja disini, karena akan bermanfaat kelak ketika kalian sudah bekerja secara mandiri. Sehingga kalian tidak akan kaget atau terkejut lagi ketika sudah memasuki dunia kerja. Kerjanya ya cuma itu-itu doang. Semuanya tergantung ketahanan diri dan motivasi kita, apakah kita menyikapinya sebagai sebuah rintangan kemudian merasa susah, atau menganggapnya sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri kemudian merasa enjoy dalam bekerja. Semuanya ada di tangan kalian kelak. Oleh karena itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk mencapai cita-cita kalian. Kalau bisa, lakukan yang terbaik dalam setiap aktivitas. Jangan tanggung-tanggung dan ragu-ragu. Percaya diri itu penting loh,”.

Selasa, 17 Agustus 2010

Etika Berbangsa yang Kian Transparan


          Bangsa “Merah-Putih” adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari bermacam ras, suku bangsa, dan agama. Negara Indonesia adalah negara yang ‘’gemuk’’, “gemuk” akan kebudayaan dan kuliner. Jamrud khatulistiwa juga ambil bagian dalam perkembangan dan kemajuan dunia, baik kemajuan sumber daya alam , sumber daya manusia, maupun dalam bidang teknologi. Itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
          Tanggal 28 Oktober 1928, seluruh pemuda dari segala penjuru negeri bergabung menjadi satu untuk bersumpah, menjadikan mereka menjadi satu bangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Rela menggunakan bahasa persatuan yang utuh, bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kesatuan dan kekerasan tekad rakyat Indonesia.
          Sejak peristiwa itu, Indonesia semakin berkembang dan telah menciptakan etika tersendiri yang tersebar luas di mata Internasional. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai warga yang sopan, santun dan ramah. Kita lihat saja contoh nyatanya ketika masyarakat Indonesia sedang pergi menunaikan ibadah haji. Warga Indonesia tidak akan segan (apalagi marah) ketika ada seorang warga asing yang ingin ikut menumpang bus rombongan Indonesia. Namun hal ini berkebalikan dengan negara-negara lain, yang akan langsung menolak ketika ada warga asing yang ingin menumpang bus rombongan mereka. Hal ini menunjukkan betapa beretikanya masyarakat Indonesia.
          Namun tujuh puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1998, berkibarlah bendera kebebasan dan keleluasaan, yang kita sebut-sebut sebagai bendera “Reformasi”. Di bawah naungan bendera ini, muncul berbagai konsep yang berkembang luas di masyarakat. Rakyat tak segan menyuarakan pendapat, dan rakyat tak segan untuk mengkritik (bahkan mencaci) kepala negaranya. Hal ini sungguh di luar kendali dari konteks “Reformasi” sesungguhnya yang diusung tahun 1998.

Pengabaian Etika

          Menurut Benny Susetyo (Memperkokoh Etika Berbangsa), sebagian besar masyarakat, atau bahkan pemerintah, kurang memperhatikan persoalan etika. Salah satu contoh konkrit yang dapat kita temui dan cermati melalui berbagai media massa adalah, rakyat yang berdemo atau berunjuk rasa tidak lagi ragu untuk menginjak (bahkan membakar) foto/gambar kepala negaranya sendiri. Padahal jelas-jelas, presiden atau kepala negara adalah orang yang Very Very Important Person (VVIP) di dalam suatu negara. Hal ini termaktub dalam Undang-undang Nomor: 8 tahun 1987 tentang protokol yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah No: 62 tahun 1990. Undang-undang dan PP tersebut mengatur tentang tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan serta perlakukan terhadap seseorang sesuai kedudukan dan martabat jabatannya dalam negara, pemerintahan dan masyarakat. Jelas hal ini tidak menggambarkan etika yang sebenarnya terhadap seorang pemimpin.
          Contoh di atas menunjukkan bahwa etika rakyat terhadap pemimpin bangsanya sudah sangat jauh merosot. Tidak ada keraguan untuk mengkritik dan mencampuri urusan pemerintahan. Demokrasi yang berlebihan justru mengalahkan negara pelopor dari demokrasi itu sendiri, yaitu United States of America (USA).
         Mereka yang ingin menyuarakan pendapat dan aspirasinya, tentu telah diberi kebebasan oleh pemerintah. Namun penyampaian itu tetap diatur di dalam Undang-Undang dan PP lainnya. Hal yang berkenaan tentang kebebasan berpendapat ini tercantum di dalam pasal 28 UUD 1945, yaitu “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Namun peraturan ini disalahartikan oleh banyak masyarakat Indonesia. Mereka yang berdemo secara berlebihan dengan melecehkan pemimpin negara mereka, atau bahkan merusak fasilitas umum yang berada disekitarnya, dapat dipastikan bahwa mereka telah salah tafsir dalam mengartikan kebebasan yang sesungguhnya.
          Kebebasan menyuarakan pendapat haruslah yang beretika dan bertanggung jawab. Namun sekarang etika dan tanggung jawab ketika “bersuara” sering diabaikan. Salah satu akibat yang sering terjadi adalah sering adanya bentrok antara massa dengan pihak keamanan. Tak jarang timbul korban dalam peristiwa yang malah makin memperkeruh persoalan ini. Apakah hal ini dilakukan karena kecintaan mereka terhadap negeri? Saya rasa terlalu berlebihan.
          Masyarakat Indonesia di era reformasi justru lebih “buas” dan “liar”. Hal ini bisa kita lihat ketika anggota DPR melakukan sidang terbuka. Kebersamaan dan rasa persatuan dipisahkan oleh martabat dan kekuasaan. Tak lagi mendasari beragam keputusan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sungguh membuat etika berbangsa kita semakin transparan.
Kebebasan, Etika, dan HAM 
          Etika berbangsa masyarakat Indonesia yang cenderung menipis telah dibicarakan dan dirundingkan dalam berbagai pertemuan maupun seminar. Hal itu dilakukan untuk menemukan pemecahan masalah dari persoalan ini. Namun kebanyakan, suara yang timbul dari kegiatan semacam ini malah sedikit sekali yang direspon oleh pemerintah. Sehingga seorang Pong Harjatmo, dengan berani menuliskan aspirasinya di atap gedung DPR-MPR yang bertuliskan “JUJUR, ADIL, TEGAS”. Tindakan ini dilakukan atas kekecewaan seorang warga yang menginginkan perbaikan di dalam pemerintahan.
           Tindakan ini kembali menimbulkan polemik. Ada 3 hal yang beradu dalam peristiwa ini, yaitu kebebasan, etika, dan HAM. Kebebasan seorang Pong untuk menyampaikan aspirasinya mengantarkan ia ke atas atap gedung "Kura-Kura". HAM seorang Pong untuk menyuarakan suaranya tertera jelas dan dapat di baca di atap gedung DPR-MPR, yang ditulis menggunakan cat. Namun etika seorang Pong dalam menyampaikan pendapat sepertinya kurang bisa diberi apresiasi. Mungkin ia tidak lagi memikirkan etika ketika hatinya sudah menggelora.
          Dilema ini pula yang muncul di dalam masyarakat. Mereka seolah tak puas dengan pemerintahan zaman sekarang. Kebebasan yang sesungguhnya “dibelokkan” oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh semakin mempertegas kekaburan dari etika di Indonesia.
           Kebebasan, etika, dan HAM saling beradu. Sulit menemukan pemecahan yang dicampuri oleh ketiga unsur ini. Karena sebenarnya, ketiga unsur ini memiliki makna yang saling bertabrakan. Kita tidak bisa mengorbankan salah satu dari tiga unsur ini, namun untuk menyeimbangkan ketiga hal ini sangatlah sulit dan rumit.

Nasib Indonesia
          
Bagaimana kelak nasibmu, wahai Bumi Pertiwi? Apakah rakyatmu akan larut dalam euforia kebebasan tanpa mengedepankan tanggung jawab dan kepekaan sosial? Siapa dan apakah yang sanggup merubah pandangan ini? Apakah kami harus menunggu seorang pahlawan muncul ditengah kekacauan dan dilema ini? Jika ya, maka antarkanlah segera ia kemari. Karena kami sudah tak sanggup menanggulangi negeri ini!
          Indonesia, menurut pandangan saya, akan menjadi negara yang multi-bebas dalam aspek aspirasional. Segala tindakan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat akan dicampuri oleh tangan-tangan rakyat. Memang Indonesia adalah negara yang demokrasi, yang menempatkan rakyat sebagai kekuasaan tertinggi dalam membuat keputusan. Tapi kan tidak setiap keputusan harus dicampuri oleh celotehan rakyat. Justru ini akan memperlambat proses kerja pemerintah.
           Pemerintah yang merasa memiliki etika kebangsaan yang tinggi juga harus menyadari persoalan ini, bahwa tanpa demo dan unjuk rasa dari masyarakat, mereka telah mampu mengerti apa yang mesti dilakukan untuk masyarakat. Jangan hanya mempertebal kantong dan menimbun materi sebanyak-banyaknya. Mereka yang seperti inilah yang sebaiknya dimusnahkan dari Bumi Pertiwi. Namun, kita sebagai masyarakat biasa hanya bisa menonton mereka yang perutnnya semakin membuncit. Tak banyak yang bisa kita lakukan. Menyuarakan aspirasi melalui berbagai media seperti yang dilakukan Pong saja tidak diindahkan, apalagi kita yang hanya sekedar berpendapat. Atau Anda mau seperti Pong? Menuliskan suaranya secara langsung di atap gedung DPR-MPR? Silahkan dicoba, siapa tahu direspon oleh pemerintah.
           Akankah Tanah Air yang mulai “keruh” ini, dapat kembali menjadi Nusantara yang bersih dan bening? Entahlah.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Lingkungan Hidup


Definisi Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.
Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Hidup
Indonesia termasuk dalam perjanjian: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi, Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83, Perkayuan Tropis 94, Dataran basah, Perubahan Iklim - Protokol Kyoto (UU 17/2004), Perlindungan Kehidupan Laut (1958) dengan UU 19/1961.

Pencemaran lingkungan hidup di Indonesia

Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor,limbah industri, limbah pariwisata, limbah rumah sakit.
Masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara.

Limbah Rumah Sakit

Merupakan hasil dari pemakaian peralatan kesehatan padat dan cair, bahan kimia dan bagian dari tubuh manusia yang tidak dapat digunakan lagi. Unit penghasil limbah di rumahsakit adalah semua unit yang menghasilkan limbah seperti loundri, dapur, unit kamar operasi, laboratorium, unit radiologi, apotek/farmasi, perkantoran, kantin dan lain sebagainya. pengolahan limbah padat dan cair dapat dilakukan dengan cara kimiawi dan cara tradisional, tetapi dalam standarisasinya menggunakan incenarator.

Pencemaran air
 adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.

Please elaborate your opinion. Please.


I saw a kid. A boy. Around 5 years old. He was collecting all the rubbish he could take and put it into an used sack. There is no more saddening thing than seeing that. I was crying at that time and still crying until I typed this short text. I wish I could do something to help them. 
Well, ya, there is nothing I could do. Sounds impossible for me to help them by giving my money. I do not have money. I am a teenager and have no job-I am still schooling!
What about educate them? You ask. It is also impossible for me because even I am an educated person, I almost never have time to take care of myself.  Most of my time is spent for my education. Course, school. .. I am pretty sure that I will not have time and my daddy would say, “Do you want to educate them? Just educate yourself first! Now look at yourself. Get mirror always on you. You face yourself and ask yourself : WHAT GONNA I BE?” (That statement really hurt me. Tears and diary are my best friend.)
Next, do you think that giving my help on their job voluntarily is the best act? You wish. I cannot! I never have time to get outside my house except for my course and school. (Yeah, most of my classmates are a bit stress because I never join them to hang out in the mall or watch cinema on 21. But it does not mean that I don’t like it—I just do not have time. Try to ask me to get there and I will do my best to get permission from my dad.)
So, in your opinion, what can I do to help them? I really want to help them, make their life better. Really, for sure. I am crying seeing them do that job but there is nothing I could do.

                                                                                           Thank you,

                                                                              

Selasa, 10 Agustus 2010

Enaknya Menulis


Suatu ketika teman saya berkata, “Kok Anda gak bosen ya nulis terus?”.
Menulis sungguh menyenangkan apabila dilakukan dengan ketulusan hati. Kita bisa menuangkan segala ide dan uneg-uneg kita ke dalam bentuk tulisan. Tak ada yang melarang, tak ada yang melihat. Sungguh kita akan terbawa ke dalam indahnya dunia tulis-menulis ketika kita mampu menanamkan keinginan untuk selalu menulis di dasar hati kita.
            Menulis juga bisa dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan. Apabila kita aktif dan produktif dalam menciptakan karya yang bermutu dan sesuai dengan selera pasar, mendapat penghasilan dari menulis bukanlah hal yang mustahil. Namun dibutuhkan kerja keras dan semangat juang yang tinggi untuk mampu menjadi seorang penulis yang handal. Semuanya tidak bisa didapat secara instant dan cepat.
            Menulis juga melatih kesabaran kita dalam mengolah kata sehingga enak untuk dibaca. Menulis mengasah kreativitas dan keterampilan kita untuk terlatih dan terbiasa menuangkan gagasan yang numpuk di kepala kita. Menulis terasa amat “menyegarkan” bagi Anda yang penuh dengan gagasan. Tak ada tempat untuk menceritakannya kepada teman? Ceritakanlah ke dalam tulisanmu.
            Menulis terasa begitu berharga ketika kita sudah menaruh hati padanya. Tiada hari tanpa menulis. Pikiran dirasa sumpek apabila tidak menulis. Tangan terasa gatal apabila tidak menyentuk pena/pensil, atau bahkan keyboard untuk menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Hari terasa hambar bila tidak menulis.
Sepatah dua patah kata bukanlah masalah, asalkan diri kita dibiasakan untuk tetap menulis. Lebih baik menulis satu kata daripada tidak menulis sama sekali. Sangat disayangkan bila ide yang ada di pikiran kita tidak segera “diletakkan” di atas kertas. Karena bila tidak, gagasan itu akan segera menguap, hilang ditelan sang waktu.
Menulis bisa melatih diri dan otak kita untuk terbiasa menuangkan ide dan pikiran yang ada di otak menjadi bentuk tulisan. Karena kebanyakan orang akan merasa kesulitan ketika idenya harus dituliskan ke atas kertas. Mereka biasanya kesulitan merangkai kata menjadi kalimat yang sesuai dengan apa yang mereka maksudkan. Hal inilah yang bisa kita hindarkan apabila kita rutin berlatih menulis.
Menulis juga bisa meningkatkan kualitas tata bahasa kita secara baik dan terarah. Hal ini karena kita mangacu dan selalu belajar kepada tuntunan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Selera bahasa yang digunaka juga akan meningkat seiring meningkatnya kuantitas latihan menulis. Namun diusahakan tidak hanya kuantitas saja, kualitas hasil tulisan juga diutamakan. Imbangi hal ini dengan banyak membaca buku-buku yang bermutu.
Menulis terasa menyenangkan dan nikmat bila kita menganggapnya seperti itu. Namun tidak hanya sekedar anggapan, menulis akan terasa enak bila kita sudah tertarik dan cinta kepadanya. Seperti seorang remaja yang jatuh hati kepada pasangannya, ia akan berbuat banyak untuk membuktikan cintanya. Begitu pula dengan penulis.
Scribo ergo sum. Saya menulis, maka saya ada.

Minggu, 01 Agustus 2010

Sekilas SMA Plus Negeri 17 Palembang

          Salam. 
Sebenarnya ini posting yang gak begitu penting. Tapi siapa tau bisa jadi referensi buat pembaca . Hehe.
         
          SMA atau Sekolah Menengah Atas adalah jenjang pendidikan yang sangat menentukan perjalanan karir dalam kehidupan seseorang. Berbagai SMA saling bersaing untuk meningkatkan mutu dan kualitas input maupun outputnya. Kualitas pembelajaran juga semakin dikembangkan untuk meningkatkan grade sekolah tersebut. 
           Well, ngomong-ngomong masalah SMA nih. Saya ingin sedikit menjelaskan salah satu SMA unggulan di Kota Palembang. Udah tau SMA mana? Yap, bener banget. Sekolah ini emang udah gak asing lagi di telinga maupun mata kita. Adalah SMA Plus Negeri 17 Palembang, sekolah RSBI yang semakin bersemangat untuk mengubah statusnya menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Berbagai elemen turut menyukseskan target ini. Tak terkecuali dengan peserta didik yang belajar di SMA ini. Namun, sebelum kita mengenal lebih jauh tentang SMA ini, ada yang tau lokasinya dimana? Wah, pada belum tau nih. Ckck. SMA ini bertempat di Jalan Mayor Zurbi Bustan, Lebong Siareng, Palembang. Sekolah ini berada persis di pinggir jalan. Gardunya berwarna merah-coklat. 

Pintu masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang
Way to dormitory
        SMA ini terkenal salah satunya karena image-nya sebagai green school. Lingkungan sekolah ini asri dan hijau. Banyak tanaman menghiasi setiap sudut dalam sekolah ini. Check this out!

Welcome Field

Tetap bersih dan hijau

Hamparan kehijauan

Lapangan upacara

Suasana dari ruang guru
          Yap, begitulah kira-kira gambaran dari "tampilan fisik"dari SMA Plus Negeri 17 Palembang. Masih penasaran?? Datang langsung ke SMA ini! Gak bayar kok. Hehe. Istilahnya, lingkungan yang asri berdampak terhadap kejernihan pelajar dalam befikir. Karena ketika kita melihat warna hijau, di saat itulah kita melihat "kesegaran". 

Semoga bermanfaat.