Kamis, 30 September 2010

Mahalnya Aset Kejujuran

          Upacara pengibaran bendera adalah salah satu hal yang lumrah dilakukan di tiap sekolah di Indonesia, tak terkecuali sekolah saya. Namun pada upacara hari itu, ada satu persoalan yang mengusik batin saya, yang kemudian telah saya tuliskan menjadi bacaan yang saat ini sedang Anda baca. Yang mengusik logika saya adalah isi dari amanat pembina upacara, yang pada waktu itu disampaikan oleh guru Matematika SMA Negeri 17 Palembang, Pak Udni, S.Pd. Beliau mengangkat topik tentang fenomena kejujuran yang merajalela di negeri tercinta.
          Pagi itu, beliau mengawali amanat dengan mengajak peserta upacara untuk mengingat kembali pelaksanaan Ujian Nasional tahun kemarin. Beliau berkata, "Betapa mahalnya kejujuran di Indonesia saat ini. Coba kita ingat dan renungkan kembali. Pelaksanaan Ujian Nasional tiap tahunnya menyerap perhatian yang tidak sedikit dari pemerintah maupun pihak keamanan. Pemerintah menginginkan semua peserta ujian berlaku jujur dalam menjawab soal, sehingga kelak akan mampu bersaing di zaman globalisasi".
          "Untuk menindaklanjuti persoalan kejujuran peserta ujian, pemerintah mengutus pihak keamanan (dalam hal ini dari kepolisian) untuk mengawas pelaksanaan Ujian Nasional di tiap sekolah di Indonesia, yang jumlah sekolahnya berjumlah jutaan dan tersebar dari Sabang sampai Merauke," sambung beliau menyeret kami ke dalam inti yang akan dijelaskannya.
          Beliau menarik nafas sejenak, sembari memandang peserta upacara dengan seksama.
          "Nah, sebagai guru Matematika, kita tentu sudah belajar konsep logika. Dalam logika, kita dihadapkan dengan hitung-hitungan yang berdasarkan dengan realita yang terjadi. Dalam hal ini mari kita terjun ke alam pikiran kita. Jika dalam satu pelaksanaan Ujian Nasional terdapat 100 ribu sekolah yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia, dan dalam tiap sekolah ditugaskan seorang anggota keamanan oleh pemerintah untuk mengawasi pelaksanaan ujian tersebut, berarti ada 100 ribu angggota keamanan yang berjaga di tiap sekolah".
          "Kemudian bila tiap orang anggota keamanan diberikan uang transpor dan uang makan sebesar Rp. 100.000,- saja, berarti ada Rp. 10.000.000.000,- (10M!) yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk "upah" mengawasi kejujuran dalam pelaksanaan Ujian Nasional. Bayangkan, 10 Milliar! Saya yakin kalau dana sebanyak ini dialihkan untuk pemerataan desa-desa, tentu perkembangan dan kemajuan Indonesia akan semakin cepat" jelas beliau menggebu-gebu.
          "Sebenarnya dana sebesar ini tidak perlu dikeluarkan bila semua warga Indonesia berlaku jujur. Inilah salah satu contoh nyata yang menunjukkan betapa mahalnya aset kejujuran bangsa ini". 
          "Oleh karena itu, marilah kita sebagai warga yang cinta terhadap bangsa dan peduli terhadap kemajuan negara, berlakulah jujur! Sekarang sudah banyak orang yang pintar! Namun sangat sulit untuk menemukan orang yang jujur. Percaya tidak percaya, inilah realita yang terjadi!"
          Itulah kira-kira kalimat yang diucapkan beliau. Kita dapat mengambil makna dan pesan yang tersimpan dalam amanat beliau. Bahwa harga dari aset kejujuran yang berada di dalam diri masyarakat kini sudah sangat-sangat mahal. Setuju?

Sabtu, 28 Agustus 2010

Ada Usaha, Ada Jalan

          Alhamdulillah, hari ini saya sangat bersyukur kepada Allah swt., dimana pada hari ini usia part time saya di XPressi Sumatera Ekspress Palembang sudah genap 4 bulan. Tak terasa waktu berlalu, tak terasa keringat diseka. Banyak lika-liku dan ilmu yang telah saya lalui selama 4 bulan ini. Alhamdulillah. 
          Memang sebenarnya, 4 bulan adalah waktu yang sangat singkat bila dipandang dan diukur dalam takaran dalam setiap tingkat kemampuan kebanyakan orang. Bahkan 4 bulan juga masih belum bisa dianggap sudah ndalem, belum mengerti bagaimana rasanya pahit-manis seorang pemuda yang bekerja dalam lingkup part time. 
          Namun disini saya hanya ingin mengajak pembaca, khususnya yang satu pemikiran dengan saya, bahwa kemauan kuat yang disertai bukti nyata akan membawa Anda “terbang” menuju impian Anda. Seperti salah satu judul buku yang mengatakan “Man Jadda Wa Jadda, dimana ada kemauan dan usaha keras, disitu akan datang suatu pencapaian”. 
          Sekali lagi, memang momen ini sungguh sepele, dan (bahkan) terkesan melebih-lebihkan. “Baru 4 bulan kok lebai?”, kurang lebih diibaratkan seperti itu. Saya sangat berharap, janganlah melihat tulisan ini sebagai salah satu proses yang mengarah kesana, tapi marilah kita anggap tulisan ini sebagai sebuah masukan singkat dalam catatan perjalanan hidup Anda. 
          Bila ditarik garis waktu sepanjang kurang lebih 4 bulan yang lalu, saya hanyalah seorang pelajar yang “tiba-tiba” tertarik untuk menulis. Anda akan menemui saya sebagai pelajar yang pendiam dan tidak suka berbahasa, pada waktu itu. Namun semuanya kini berbalik 180’. Saya yang semula malas berargumen kini lebih menggelora setelah membaca nasihat dari Pramoedya Ananta Noer, yang mengatakan bahwa menulis adalah salah satu kegiatan sosial. 
          Saya yang dahulu malas berbahasa kini sangat tertarik dengan proses berbahasa, setelah mendalami pesan dari salah satu guru bahasa Indonesia saya, Pak Arpin. Beliau mengatakan bahwa bahasa adalah alat penyambung dari semua kalangan, baik yang berbeda maupun sejenis. Saya sungguh meresapi kalimat-kalimat mereka di atas. Subhanallah. Namun akhirnya saya “terpancing” oleh buku karya Bambang Trim (Menggagas Buku), untuk belajar menuliskan opini dan pemecahan yang saya tawarkan ke dalam bentuk tulisan. Saya langsung bergegas membekali diri dengan segala kesempatan dan karunia yang ada untuk saya jadikan “modal” dalam menulis. Tanpa menunda-nunda waktu, dan Alhamdulillah saya tidak terganggu oleh buaian impian yang semu belaka. 
          Dua bulan setelah saya membaca buku Bambang Trim, saya memutuskan untuk terjun langsung ke sebuah “tempat nyata”, dimana saya dilatih dan diajak untuk merasakan asinnya garam selama berkutat dengan dunia tulis menulis. Saya pun melamar kesana kesini. Alhamdulillah ternyata Allah memberi saya kesempatan untuk bergabung dengan XPressi Sumatera Ekspress Palembang. 
          Tak usah saya bercerita panjang lebar tentang bagaimana dan apa rasanya ketika proses seleksi menjadi crew XPressi. Namun saya akan bercerita sedikit tentang bagaimana asiknya menjadi penulis part time. 
          Menjadi penulis part time dalam sebuah surat kabar adalah salah satu wadah untuk mengembangkan potensi yang ada pada setiap calon penulis. Kita akan dilatih untuk bekerja disiplin, mengerti tujuan dari tulisan yang kita buat, dan lain sebagainya. Berbagai ilmu bisa kita serap, apalagi yang berhubungan dengan dunia tulis-menulis. Kita (akan) bertemu orang-orang yang sudah lama terjun ke dunia kepenulisan, khususnya dalam bentuk informasi atau berita. 
          Siapa sangka saya bisa bertemu dengan Direktur Harian Sumatera Ekspress dengan menyandang status “penulis” yang masih pelajar? Saya tidak pernah menyangka. Saya juga tidak pernah menyangka bahwa tulisan saya akan dibaca, dan tembus dari “meja” redaksi Sumatera Ekspress. Padahal “meja” itu terkesan asing bagi saya yang mulanya seorang pelajar awam dan biasa saja. Siapa bisa menduga? Anda tentu akan beranggapan seperti “Ah, kan emang udah nasibnya diterima disitu”. Yang saya maksudkan disini, selain atas izin Allah, juga diperlukan usaha yang keras dan tidak setengah-setengah. Bila Anda ingin menjadi seorang penulis (yang notabene paling mudah dan tanpa persyaratan), maka segeralah lakukan hal yang berhubungan dengan itu. Jangan tunda lagi dan hanya terbuai mimpi untuk menerbitkan karya yang akan dibaca banyak orang. Semuanya tidak akan seinstant menggambar sebuah rumah di atas kertas. 
          Oleh karena itu, marilah kita sebagai generasi muda penerus bangsa yang cemerlang dan penuh dengan perubahan positif untuk segera menempa diri dalam mencapai keinginan masing-masing. Latihlah diri untuk terbiasa dan “terpancing” dengan cita-cita Anda. Jangan hanya ikut-ikutan alias tidak punya pendirian. Lakukan hal yang berhubungan dengan cita-cita Anda. 
          Saya sendiri telah memutuskan untuk tidak menjadi seorang sastrawan. Namun saya akan berusaha dengan sebaik-baiknya untuk menjadi seorang yang mampu berbahasa dengan baik. Karena apabila telah menguasai skill berbahasa, mengubahnya menjadi bentuk tulisan bukanlah perkara sulit. Usaha keras dan tekad pantang menyerah akan merobohkan rintangan yang menghadang. 
          Jangan takut untuk mencoba. Galilah potensi yang ada dalam diri Anda, dan segera tentukan masa depan Anda sedini mungkin. Jangan lupa tetap dan selalu berdo’a kepada Yang Maha Kuasa, agar selalu diberi lindungan dan kemudahan oleh-Nya. Amin. 
          Sebagai tambahan, marilah bersama kita simak kalimat dari salah satu atasan saya, yaitu Mas Karsono selaku Pelaksana Harian Sumatera Ekspress. “Kita disini dilatih untuk terjun langsung ke dunia kerja. Silahkan rasakan dan serap pelajaran sebanyak-banyaknya selama kalian bekerja disini, karena akan bermanfaat kelak ketika kalian sudah bekerja secara mandiri. Sehingga kalian tidak akan kaget atau terkejut lagi ketika sudah memasuki dunia kerja. Kerjanya ya cuma itu-itu doang. Semuanya tergantung ketahanan diri dan motivasi kita, apakah kita menyikapinya sebagai sebuah rintangan kemudian merasa susah, atau menganggapnya sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki diri kemudian merasa enjoy dalam bekerja. Semuanya ada di tangan kalian kelak. Oleh karena itu, mari kita lakukan yang terbaik untuk mencapai cita-cita kalian. Kalau bisa, lakukan yang terbaik dalam setiap aktivitas. Jangan tanggung-tanggung dan ragu-ragu. Percaya diri itu penting loh,”.

Selasa, 17 Agustus 2010

Etika Berbangsa yang Kian Transparan


          Bangsa “Merah-Putih” adalah bangsa yang majemuk, terdiri dari bermacam ras, suku bangsa, dan agama. Negara Indonesia adalah negara yang ‘’gemuk’’, “gemuk” akan kebudayaan dan kuliner. Jamrud khatulistiwa juga ambil bagian dalam perkembangan dan kemajuan dunia, baik kemajuan sumber daya alam , sumber daya manusia, maupun dalam bidang teknologi. Itulah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
          Tanggal 28 Oktober 1928, seluruh pemuda dari segala penjuru negeri bergabung menjadi satu untuk bersumpah, menjadikan mereka menjadi satu bangsa yang satu, Bangsa Indonesia. Rela menggunakan bahasa persatuan yang utuh, bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya rasa kesatuan dan kekerasan tekad rakyat Indonesia.
          Sejak peristiwa itu, Indonesia semakin berkembang dan telah menciptakan etika tersendiri yang tersebar luas di mata Internasional. Masyarakat Indonesia dikenal sebagai warga yang sopan, santun dan ramah. Kita lihat saja contoh nyatanya ketika masyarakat Indonesia sedang pergi menunaikan ibadah haji. Warga Indonesia tidak akan segan (apalagi marah) ketika ada seorang warga asing yang ingin ikut menumpang bus rombongan Indonesia. Namun hal ini berkebalikan dengan negara-negara lain, yang akan langsung menolak ketika ada warga asing yang ingin menumpang bus rombongan mereka. Hal ini menunjukkan betapa beretikanya masyarakat Indonesia.
          Namun tujuh puluh tahun kemudian, tepatnya tahun 1998, berkibarlah bendera kebebasan dan keleluasaan, yang kita sebut-sebut sebagai bendera “Reformasi”. Di bawah naungan bendera ini, muncul berbagai konsep yang berkembang luas di masyarakat. Rakyat tak segan menyuarakan pendapat, dan rakyat tak segan untuk mengkritik (bahkan mencaci) kepala negaranya. Hal ini sungguh di luar kendali dari konteks “Reformasi” sesungguhnya yang diusung tahun 1998.

Pengabaian Etika

          Menurut Benny Susetyo (Memperkokoh Etika Berbangsa), sebagian besar masyarakat, atau bahkan pemerintah, kurang memperhatikan persoalan etika. Salah satu contoh konkrit yang dapat kita temui dan cermati melalui berbagai media massa adalah, rakyat yang berdemo atau berunjuk rasa tidak lagi ragu untuk menginjak (bahkan membakar) foto/gambar kepala negaranya sendiri. Padahal jelas-jelas, presiden atau kepala negara adalah orang yang Very Very Important Person (VVIP) di dalam suatu negara. Hal ini termaktub dalam Undang-undang Nomor: 8 tahun 1987 tentang protokol yang ditindaklanjuti dengan Peraturan Pemerintah No: 62 tahun 1990. Undang-undang dan PP tersebut mengatur tentang tata tempat, tata upacara, dan tata penghormatan serta perlakukan terhadap seseorang sesuai kedudukan dan martabat jabatannya dalam negara, pemerintahan dan masyarakat. Jelas hal ini tidak menggambarkan etika yang sebenarnya terhadap seorang pemimpin.
          Contoh di atas menunjukkan bahwa etika rakyat terhadap pemimpin bangsanya sudah sangat jauh merosot. Tidak ada keraguan untuk mengkritik dan mencampuri urusan pemerintahan. Demokrasi yang berlebihan justru mengalahkan negara pelopor dari demokrasi itu sendiri, yaitu United States of America (USA).
         Mereka yang ingin menyuarakan pendapat dan aspirasinya, tentu telah diberi kebebasan oleh pemerintah. Namun penyampaian itu tetap diatur di dalam Undang-Undang dan PP lainnya. Hal yang berkenaan tentang kebebasan berpendapat ini tercantum di dalam pasal 28 UUD 1945, yaitu “Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang”. Namun peraturan ini disalahartikan oleh banyak masyarakat Indonesia. Mereka yang berdemo secara berlebihan dengan melecehkan pemimpin negara mereka, atau bahkan merusak fasilitas umum yang berada disekitarnya, dapat dipastikan bahwa mereka telah salah tafsir dalam mengartikan kebebasan yang sesungguhnya.
          Kebebasan menyuarakan pendapat haruslah yang beretika dan bertanggung jawab. Namun sekarang etika dan tanggung jawab ketika “bersuara” sering diabaikan. Salah satu akibat yang sering terjadi adalah sering adanya bentrok antara massa dengan pihak keamanan. Tak jarang timbul korban dalam peristiwa yang malah makin memperkeruh persoalan ini. Apakah hal ini dilakukan karena kecintaan mereka terhadap negeri? Saya rasa terlalu berlebihan.
          Masyarakat Indonesia di era reformasi justru lebih “buas” dan “liar”. Hal ini bisa kita lihat ketika anggota DPR melakukan sidang terbuka. Kebersamaan dan rasa persatuan dipisahkan oleh martabat dan kekuasaan. Tak lagi mendasari beragam keputusan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Sungguh membuat etika berbangsa kita semakin transparan.
Kebebasan, Etika, dan HAM 
          Etika berbangsa masyarakat Indonesia yang cenderung menipis telah dibicarakan dan dirundingkan dalam berbagai pertemuan maupun seminar. Hal itu dilakukan untuk menemukan pemecahan masalah dari persoalan ini. Namun kebanyakan, suara yang timbul dari kegiatan semacam ini malah sedikit sekali yang direspon oleh pemerintah. Sehingga seorang Pong Harjatmo, dengan berani menuliskan aspirasinya di atap gedung DPR-MPR yang bertuliskan “JUJUR, ADIL, TEGAS”. Tindakan ini dilakukan atas kekecewaan seorang warga yang menginginkan perbaikan di dalam pemerintahan.
           Tindakan ini kembali menimbulkan polemik. Ada 3 hal yang beradu dalam peristiwa ini, yaitu kebebasan, etika, dan HAM. Kebebasan seorang Pong untuk menyampaikan aspirasinya mengantarkan ia ke atas atap gedung "Kura-Kura". HAM seorang Pong untuk menyuarakan suaranya tertera jelas dan dapat di baca di atap gedung DPR-MPR, yang ditulis menggunakan cat. Namun etika seorang Pong dalam menyampaikan pendapat sepertinya kurang bisa diberi apresiasi. Mungkin ia tidak lagi memikirkan etika ketika hatinya sudah menggelora.
          Dilema ini pula yang muncul di dalam masyarakat. Mereka seolah tak puas dengan pemerintahan zaman sekarang. Kebebasan yang sesungguhnya “dibelokkan” oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Sungguh semakin mempertegas kekaburan dari etika di Indonesia.
           Kebebasan, etika, dan HAM saling beradu. Sulit menemukan pemecahan yang dicampuri oleh ketiga unsur ini. Karena sebenarnya, ketiga unsur ini memiliki makna yang saling bertabrakan. Kita tidak bisa mengorbankan salah satu dari tiga unsur ini, namun untuk menyeimbangkan ketiga hal ini sangatlah sulit dan rumit.

Nasib Indonesia
          
Bagaimana kelak nasibmu, wahai Bumi Pertiwi? Apakah rakyatmu akan larut dalam euforia kebebasan tanpa mengedepankan tanggung jawab dan kepekaan sosial? Siapa dan apakah yang sanggup merubah pandangan ini? Apakah kami harus menunggu seorang pahlawan muncul ditengah kekacauan dan dilema ini? Jika ya, maka antarkanlah segera ia kemari. Karena kami sudah tak sanggup menanggulangi negeri ini!
          Indonesia, menurut pandangan saya, akan menjadi negara yang multi-bebas dalam aspek aspirasional. Segala tindakan yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat akan dicampuri oleh tangan-tangan rakyat. Memang Indonesia adalah negara yang demokrasi, yang menempatkan rakyat sebagai kekuasaan tertinggi dalam membuat keputusan. Tapi kan tidak setiap keputusan harus dicampuri oleh celotehan rakyat. Justru ini akan memperlambat proses kerja pemerintah.
           Pemerintah yang merasa memiliki etika kebangsaan yang tinggi juga harus menyadari persoalan ini, bahwa tanpa demo dan unjuk rasa dari masyarakat, mereka telah mampu mengerti apa yang mesti dilakukan untuk masyarakat. Jangan hanya mempertebal kantong dan menimbun materi sebanyak-banyaknya. Mereka yang seperti inilah yang sebaiknya dimusnahkan dari Bumi Pertiwi. Namun, kita sebagai masyarakat biasa hanya bisa menonton mereka yang perutnnya semakin membuncit. Tak banyak yang bisa kita lakukan. Menyuarakan aspirasi melalui berbagai media seperti yang dilakukan Pong saja tidak diindahkan, apalagi kita yang hanya sekedar berpendapat. Atau Anda mau seperti Pong? Menuliskan suaranya secara langsung di atap gedung DPR-MPR? Silahkan dicoba, siapa tahu direspon oleh pemerintah.
           Akankah Tanah Air yang mulai “keruh” ini, dapat kembali menjadi Nusantara yang bersih dan bening? Entahlah.

Sabtu, 14 Agustus 2010

Lingkungan Hidup


Definisi Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup bagi bangsa Indonesia tidak lain merupakan Wawasan Nusantara, yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alamiah dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya, tempat bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bernegara dalam segala aspeknya.
Secara hukum maka wawasan dalam menyelenggarakan penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup di Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

Undang-Undang Perlindungan Lingkungan Hidup
Indonesia termasuk dalam perjanjian: Biodiversitas, Perubahan Iklim, Desertifikasi, Spesies yang Terancam, Sampah Berbahaya, Hukum Laut, Larangan Ujicoba Nuklir, Perlindungan Lapisan Ozon, Polusi Kapal, Perkayuan Tropis 83, Perkayuan Tropis 94, Dataran basah, Perubahan Iklim - Protokol Kyoto (UU 17/2004), Perlindungan Kehidupan Laut (1958) dengan UU 19/1961.

Pencemaran lingkungan hidup di Indonesia

Bahaya alam: banjir, kemarau panjang, tsunami, gempa bumi, gunung berapi, kebakaran hutan, gunung lumpur, tanah longsor,limbah industri, limbah pariwisata, limbah rumah sakit.
Masalah Lingkungan hidup di Indonesia saat ini: penebangan hutan secara liar/pembalakan hutan; polusi air dari limbah industri dan pertambangan; polusi udara di daerah perkotaan (Jakarta merupakan kota dengan udara paling kotor ke 3 di dunia); asap dan kabut dari kebakaran hutan; kebakaran hutan permanen/tidak dapat dipadamkan; perambahan suaka alam/suaka margasatwa; perburuan liar, perdagangan dan pembasmian hewan liar yang dilindungi; penghancuran terumbu karang; pembuangan sampah B3/radioaktif dari negara maju; pembuangan sampah tanpa pemisahan/pengolahan; semburan lumpur liar di Sidoarjo, Jawa Timur; hujan asam yang merupakan akibat dari polusi udara.

Limbah Rumah Sakit

Merupakan hasil dari pemakaian peralatan kesehatan padat dan cair, bahan kimia dan bagian dari tubuh manusia yang tidak dapat digunakan lagi. Unit penghasil limbah di rumahsakit adalah semua unit yang menghasilkan limbah seperti loundri, dapur, unit kamar operasi, laboratorium, unit radiologi, apotek/farmasi, perkantoran, kantin dan lain sebagainya. pengolahan limbah padat dan cair dapat dilakukan dengan cara kimiawi dan cara tradisional, tetapi dalam standarisasinya menggunakan incenarator.

Pencemaran air
 adalah suatu perubahan keadaan di suatu tempat penampungan air seperti danau, sungai, lautan dan air tanah akibat aktivitas manusia. Walaupun fenomena alam seperti gunung berapi, badai, gempa bumi dll juga mengakibatkan perubahan yang besar terhadap kualitas air, hal ini tidak dianggap sebagai pencemaran. Pencemaran air dapat disebabkan oleh berbagai hal dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Meningkatnya kandungan nutrien dapat mengarah pada eutrofikasi. Sampah organik seperti air comberan (sewage) menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen pada air yang menerimanya yang mengarah pada berkurangnya oksigen yang dapat berdampak parah terhadap seluruh ekosistem. Industri membuang berbagai macam polutan ke dalam air limbahnya seperti logam berat, toksin organik, minyak, nutrien dan padatan. Air limbah tersebut memiliki efek termal, terutama yang dikeluarkan oleh pembangkit listrik, yang dapat juga mengurangi oksigen dalam air.

Please elaborate your opinion. Please.


I saw a kid. A boy. Around 5 years old. He was collecting all the rubbish he could take and put it into an used sack. There is no more saddening thing than seeing that. I was crying at that time and still crying until I typed this short text. I wish I could do something to help them. 
Well, ya, there is nothing I could do. Sounds impossible for me to help them by giving my money. I do not have money. I am a teenager and have no job-I am still schooling!
What about educate them? You ask. It is also impossible for me because even I am an educated person, I almost never have time to take care of myself.  Most of my time is spent for my education. Course, school. .. I am pretty sure that I will not have time and my daddy would say, “Do you want to educate them? Just educate yourself first! Now look at yourself. Get mirror always on you. You face yourself and ask yourself : WHAT GONNA I BE?” (That statement really hurt me. Tears and diary are my best friend.)
Next, do you think that giving my help on their job voluntarily is the best act? You wish. I cannot! I never have time to get outside my house except for my course and school. (Yeah, most of my classmates are a bit stress because I never join them to hang out in the mall or watch cinema on 21. But it does not mean that I don’t like it—I just do not have time. Try to ask me to get there and I will do my best to get permission from my dad.)
So, in your opinion, what can I do to help them? I really want to help them, make their life better. Really, for sure. I am crying seeing them do that job but there is nothing I could do.

                                                                                           Thank you,

                                                                              

Selasa, 10 Agustus 2010

Enaknya Menulis


Suatu ketika teman saya berkata, “Kok Anda gak bosen ya nulis terus?”.
Menulis sungguh menyenangkan apabila dilakukan dengan ketulusan hati. Kita bisa menuangkan segala ide dan uneg-uneg kita ke dalam bentuk tulisan. Tak ada yang melarang, tak ada yang melihat. Sungguh kita akan terbawa ke dalam indahnya dunia tulis-menulis ketika kita mampu menanamkan keinginan untuk selalu menulis di dasar hati kita.
            Menulis juga bisa dijadikan sebagai salah satu sumber pendapatan. Apabila kita aktif dan produktif dalam menciptakan karya yang bermutu dan sesuai dengan selera pasar, mendapat penghasilan dari menulis bukanlah hal yang mustahil. Namun dibutuhkan kerja keras dan semangat juang yang tinggi untuk mampu menjadi seorang penulis yang handal. Semuanya tidak bisa didapat secara instant dan cepat.
            Menulis juga melatih kesabaran kita dalam mengolah kata sehingga enak untuk dibaca. Menulis mengasah kreativitas dan keterampilan kita untuk terlatih dan terbiasa menuangkan gagasan yang numpuk di kepala kita. Menulis terasa amat “menyegarkan” bagi Anda yang penuh dengan gagasan. Tak ada tempat untuk menceritakannya kepada teman? Ceritakanlah ke dalam tulisanmu.
            Menulis terasa begitu berharga ketika kita sudah menaruh hati padanya. Tiada hari tanpa menulis. Pikiran dirasa sumpek apabila tidak menulis. Tangan terasa gatal apabila tidak menyentuk pena/pensil, atau bahkan keyboard untuk menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan. Hari terasa hambar bila tidak menulis.
Sepatah dua patah kata bukanlah masalah, asalkan diri kita dibiasakan untuk tetap menulis. Lebih baik menulis satu kata daripada tidak menulis sama sekali. Sangat disayangkan bila ide yang ada di pikiran kita tidak segera “diletakkan” di atas kertas. Karena bila tidak, gagasan itu akan segera menguap, hilang ditelan sang waktu.
Menulis bisa melatih diri dan otak kita untuk terbiasa menuangkan ide dan pikiran yang ada di otak menjadi bentuk tulisan. Karena kebanyakan orang akan merasa kesulitan ketika idenya harus dituliskan ke atas kertas. Mereka biasanya kesulitan merangkai kata menjadi kalimat yang sesuai dengan apa yang mereka maksudkan. Hal inilah yang bisa kita hindarkan apabila kita rutin berlatih menulis.
Menulis juga bisa meningkatkan kualitas tata bahasa kita secara baik dan terarah. Hal ini karena kita mangacu dan selalu belajar kepada tuntunan penggunaan bahasa yang baik dan benar. Selera bahasa yang digunaka juga akan meningkat seiring meningkatnya kuantitas latihan menulis. Namun diusahakan tidak hanya kuantitas saja, kualitas hasil tulisan juga diutamakan. Imbangi hal ini dengan banyak membaca buku-buku yang bermutu.
Menulis terasa menyenangkan dan nikmat bila kita menganggapnya seperti itu. Namun tidak hanya sekedar anggapan, menulis akan terasa enak bila kita sudah tertarik dan cinta kepadanya. Seperti seorang remaja yang jatuh hati kepada pasangannya, ia akan berbuat banyak untuk membuktikan cintanya. Begitu pula dengan penulis.
Scribo ergo sum. Saya menulis, maka saya ada.

Minggu, 01 Agustus 2010

Sekilas SMA Plus Negeri 17 Palembang

          Salam. 
Sebenarnya ini posting yang gak begitu penting. Tapi siapa tau bisa jadi referensi buat pembaca . Hehe.
         
          SMA atau Sekolah Menengah Atas adalah jenjang pendidikan yang sangat menentukan perjalanan karir dalam kehidupan seseorang. Berbagai SMA saling bersaing untuk meningkatkan mutu dan kualitas input maupun outputnya. Kualitas pembelajaran juga semakin dikembangkan untuk meningkatkan grade sekolah tersebut. 
           Well, ngomong-ngomong masalah SMA nih. Saya ingin sedikit menjelaskan salah satu SMA unggulan di Kota Palembang. Udah tau SMA mana? Yap, bener banget. Sekolah ini emang udah gak asing lagi di telinga maupun mata kita. Adalah SMA Plus Negeri 17 Palembang, sekolah RSBI yang semakin bersemangat untuk mengubah statusnya menjadi SBI (Sekolah Berstandar Internasional). Berbagai elemen turut menyukseskan target ini. Tak terkecuali dengan peserta didik yang belajar di SMA ini. Namun, sebelum kita mengenal lebih jauh tentang SMA ini, ada yang tau lokasinya dimana? Wah, pada belum tau nih. Ckck. SMA ini bertempat di Jalan Mayor Zurbi Bustan, Lebong Siareng, Palembang. Sekolah ini berada persis di pinggir jalan. Gardunya berwarna merah-coklat. 

Pintu masuk SMA Plus Negeri 17 Palembang
Way to dormitory
        SMA ini terkenal salah satunya karena image-nya sebagai green school. Lingkungan sekolah ini asri dan hijau. Banyak tanaman menghiasi setiap sudut dalam sekolah ini. Check this out!

Welcome Field

Tetap bersih dan hijau

Hamparan kehijauan

Lapangan upacara

Suasana dari ruang guru
          Yap, begitulah kira-kira gambaran dari "tampilan fisik"dari SMA Plus Negeri 17 Palembang. Masih penasaran?? Datang langsung ke SMA ini! Gak bayar kok. Hehe. Istilahnya, lingkungan yang asri berdampak terhadap kejernihan pelajar dalam befikir. Karena ketika kita melihat warna hijau, di saat itulah kita melihat "kesegaran". 

Semoga bermanfaat.

Kamis, 22 Juli 2010

Demo Ekstrakurikuler SMA Plus Negeri 17 Palembang

          Alhamdulillah, salah satu rangkaian acara yang berkaitan dengan ekstrakurikuler SMA Plus Negeri 17 Palembang, yaitu Demo Ekskul telah usai. Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari acara promosi ekskul yang telah dilaksanakan sebelumnya. Diharapkan kegiatan ini mampu mempertegas pilihan adek-adek angkatan 14 SMA Plus Negeri 17 Palembang dalam memilih dan begabung dengan suatu ekskul. Sehingga ekskul yang bersangkutan sesuai dengan minat dan bakat calon anggota ekskul itu sendiri.

          Acara dimulai pukul 14.00 WIB. Cuaca alhamdulillah sungguh mendukung acara kali ini. Dibuka dengan apel, seluruh peserta didik diarahkan untuk segera memasuki aula SMA Plus Negeri 17 Palembang. Dipandu oleh Ilyas dan Ulfa, seluruh peserta didik diajak untuk menikmati suguhan dari tiap-tiap ekskul. Ekskul KIRANA menjadi ekskul pertama yang mendemokan kegiatan dan karakteristik ekskul tersebut. Pembukaan disambut meriah oleh peserta didik. Bahkan oleh alumni-alumni yang telah menyempatkan diri hadir untuk menyaksikan kegiatan ini. Sungguh meriah dan penuh antusias.

          Acara dilakukan di dua tempat, yaitu di dalam aula dan di lapangan basket. Aula hanya digunakan untuk demo ekskul yang tidak membutuhkan tempat luas, seperti KIR, KODRAT, dsb. Sedangkan lapangan basket dipakai untuk demo ekskul yang dalam kegiatannya memakan banyak tempat, seperti Pasmala, Parisanda, dan sebagainya. Berbagai ekskul yang menampilkan demonya di dalam aula sungguh baik kesannya dan bagus actionnya. Semoga tiap-tiap ekskul mendapat junior yang sesuai dengan minat dan bakat mereka masing-masing, tanpa paksaan. Seperti pesan Pak Bambang selaku Koordinator Pembina OSIS, "Ikutilah ekskul yang sesuai dengan minat dan bakat masing-masing. Jangan sampe salah pilih. Manfaatkan kegiatan-kegiatan seperti ini untuk memperdalam pengetahuan Anda tentang ekskul yang bersangkutan.

          Setelah selesai acara di dalam aula, peserta didik berpindah tempat menuju lapangan basket. Beruntung lapangan basketnya terletak di sebelah aula, sehingga tidak harus capek berjalan menuju lapangan. Setibanya di lapangan, mereka langsung disuguhi action dari ekskul KGB dengan roket buatannya. Wuiiihhh! Pokoknya seru deh. Ada ekskul Parisanda yang unjuk kebolehan. Diikuti ekskul Pasmala dan Perwira yang saling pamer taring. Semuanya beraksi semaksimal mungkin untuk menarik minat sebanyak-banyaknya calon anggota ekskul.

          Selesai kegiatan, seluruh peserta didik terlihat puas setelah menyaksikan aksi dari kakak-kakak kelas yang telah seoptimal mungkin menampilkan yang terbaik dari ekskul mereka. Semoga pilihan mereka semakin mantap setelah melihat penampilan dari tiap-tiap ekskul yang ada di SMA Plus Negeri 17 Palembang. Amin. Dan semoga akan semakin mengharumkan nama SMA Plus Negeri 17 Palembang di bidang ekstrakurikuler masing-masing. Sukses!

Rabu, 21 Juli 2010

Keliling Museum Kota Palembang

Tujuan Kegiatan: 
1. Menambah wawasan tentang museum dan ilmu sejarah yang berasal dari Kota Palembang 
2. Memperoleh informasi mengenai letak dan isi museum-museum yang ada di Palembang  
Manfaat Kegiatan: 
1. Mengetahui kabar dan perkembangan museum-museum yang ada di Palembang 
 2. Mengetahui isi museum-museum tersebut 

Pembahasan: 
I. Museum Sultan Mahmud Badarruddin II 
- Letak : Disebelah kiri Benteng Kuto Besak 
- Jam Buka : 08.00-16.00 WIB 
- Pengelola : Sarjuli Suprapto 
          Museum ini terletak di sebelah kiri Benteng Kuto Besak. Kita dapat dengan mudah menemukan letak museum ini karena bentuk bangunannya yang sedikit mencolok karena berbentuk limas dan dikelilingi pagar pembatas yang cukup megah. Ketika Kita memasuki halaman museum tersebut, terdapat sebuah meriam yang menjadi center taman tersebut. Daerah yang mengelilingi meriam tersebut dimanfaatkan untuk menjadi tempat parkir kendaraan, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Bangunan ini terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama dijadikan sebagai gedung serba guna yang bisa disewa untuk mengadakan suatu acara. Sedangkan lantai 2 dijadikan museum tempat menyimpan barang-barang peninggalan Kerajaan Sriwijaya sejak dulu hingga sekarang. Tangga yang menghubungkan lantai 1 dan 2 ini terletak didepan bangunan tersebut. Dengan bentuk tangga yang melingkar, dengan dua sisi untuk naik dan turun, menjadikan penampilan bangunan ini tampak sungguh menawan. Kombinasi warna putih, merah tua, dan emas semakin menambah kecantikan bangunan ini. 
          Ketika memasuki museum, terdapat lukisan wajah pahlawan yang wajahnya terdapat pada uang pecahan Rp. 10.000,00, yaitu Sultan Mahmud Badarrudin II. Bagi pengunjung yang datang untuk meneliti ataupun hanya sekadar melihat isi museum, disediakan jalur khusus yang dimulai dari sebelah kiri saat masuk ke museum. Jalur ini nantinya akan menuntun pengunjung untuk menyaksikan semua cerita yang berasal dari barang-barang peninggalan tersebut. Atau bagi turis asing yang datang untuk mengunjungi museum ini, ada guide yang siap memandu kita menelusuri isi museum ini. Bangunan ini terdiri dari 6 ruang, yang pada tiap-tiap ruang menyimpan barang-barang dan cerita tersendiri. Ruangan pertama menyimpan prasasti-prasasti peninggalan Kerajaan Sriwijaya, seperti Prasasti Kedukan Bukit, Talang Tuwo, dan sebagainya. Ada pula tempat khusus yang disediakan oleh pengelola gedung untuk pengunjung yang ingin memberikan kritik dan saran tentang museum ini. 
          Di ruangan kedua, terdapat lukisan-lukisan yang menunjukkan “Palembang tempo dulu” dan berbagai macam pakaian adat khas Kota Empek-Empek ini. Selain itu, terdapat miniatur meriam, serta miniatur Rumah Limas dan miniatur Masjid Agung Palembang yang turut menambah cerita diruangan kedua ini. Tak lupa berbagai macam senjata tradisional masyarakat Palembang ikut “dipamerkan” museum ini. Ruangan ketiga berisi barang-barang yang apabila dilihat sepintas tidak memiliki arti apa-apa. Namun ternyata replika ruang tamu yang terdapat di ruang ketiga adalah ciri khas ruang tamu Kota Palembang. Empat kursi rotan yang mengelilingi sebuah meja berukuran kecil memberikan kesan sederhana dan elegan ketika Kita mencoba memahami arti ruangan ketiga ini. It’s Wonderfull 
          Di dalam ruang keempat, ada sebuah tempat yang berisikan berbagai jenis mata uang yang digunakan masyarakat Palembang pada zaman dahulu maupun sekarang. Ada pula miniatur sampan atau perahu yang memberi arti bahwa itulah alat transportasi laut masyarakat Palembang. Disebelah kirinya, terdapat berbagai macam bentuk cetakan kue khas Palembang. Ada yang berbentuk ikan, persegi, dan sebagainya. Kesan ketika kita memasuki ruangan kelima adalah very tradisional. Ciri Kota Palembang terasa begitu kuat, karena alat tenun songket dan bermacam motif songket menghiasi ruangan ini. Alat tenun yang ditampilkan sepertinya telah berumur puluhan tahun. Namun hal ini tidak mengurangi kesan antik saat kita menjelajahi ruangan ini. 
Akhirnya kita memasuki ruangan terakhir, yaitu ruang yang keenam. Ruangan ini berisi bermacam pakaian adat Palembang, dan replika pelaminan serta replika kamar pengantin turut menghiasi ruangan ini. Tak luput berbagai alat musik tiup menjadi barang penutup dari museum ini. 
II. Museum Balaputra Dewa 
          Museum ini terletak di dekat gedung pramuka CADIKA. Jalan lorongnya terdapat di seberang Rumah Sakit Ernaldi Bahar. Letaknya tidak terlalu jauh dari jalan besar, hanya sekitar 150 meter. Gedung bangunan museum ini besar, dengan taman dan halaman yang turut menghiasi keindahan fisikal museum. Bagi pengunjung yang datang, mereka harus memiliki tiket masuk apabila ingin melihat isi museum. Tiketnya bisa dibeli di bagian dalam gedung dekat pintu masuk dengan seharga Rp. 1.500,-/orang. Museum ini terbagi menjadi 3 gedung utama. Gedung pertama berisikan barang-barang dan perlengkapan rakyat Sriwijaya zaman dahulu. Batu, anyaman, dan penggiling merupakan beberapa perlengkapan hidup rakyat Sriwijaya yang tedapat di gedung ini. Tak lupa beberapa arca Hindu-Buddha dan lukisan ikut meramaikan tiap sudut ruangan ini. Letak barang dan susunannya sudah rapi, tapi suhu di dalam ruangan ini sedikit panas dan pengap. Jadi sebaiknya diberi kipas angin atau AC agar suasana menjadi sejuk dan membuat pengunjung betah berlama-lama di ruangan ini. 
          Selanjutnya, ruangan kedua berisikan banyak batu-batu peninggalan Kerajaan maupun rakyat Sriwijaya. Namun tentu semuanya hanyalah fragmen atau rekaan. Di dalam gedung ini juga terdapat beberapa mata uang yang digunakan di zaman Sriwijaya. Tak lupa pakaian serta senjata yang digunakan rakyat Sriwijaya maupun Kompeni tempo dulu terdapat di dalam gedung ini. Di gedung ketiga, sepertinya tema yang diusung pengelola museum untuk ruangan ini adalah “Seni”. Ya. Semua barang di dalam gedung ini. Berisi berbagai kesenian khas Sriwijaya, mulai dari songket, guci, anyaman, perkakas, dan alat-alat pertanian. Tikar dan alat pemarut kelapa khas zaman Sriwijaya pun ada di dalam gedung ini. Pokoknya bisa bikin mata melek. Hehe 
III. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) 
          Letak TPKS ini berada di pinggir anak sungai Musi, tepatnya di pinggiran sungai Musi II. TPKS ini lokasinya tidak begitu strategis, walaupun bangunan dan tamannya sangat besar. Pengunjung yang datang memiliki 2 opsi, yaitu berkunjung melihat taman dan melihat bangunan. Apabila ingin berkunjung melihat taman, dikenakan biaya Rp. 2.000,-/orang. Sedangkan yang ingin melihat isi gedung museum, cukup membayar sejumlah Rp. 1.000,-/orang saja. Kita mulai dari taman dahulu. Taman di TPKS ini sangatlah luas. Banyak pondok/pendopo ikut meramaikan keindahan taman ini. Suasananya rindang, sejuk, dan menyegarkan mata karena semuanya berwarna hijau. Namun taman ini tampak sangat tidak terawatt. Kambing dimana-mana. Dan yang pasti, dimana ada kambing, pasti ada kotorannya juga. Ya. ‘Bau’ taman ini didominasi oleh bau kotoran kambing. Sehingga pengunjung menjadi tidak betah untuk berlama-lama di taman ini. Selain itu, kondisi pendopo/pondok sudah banyak yang tidak terawat. Cat terkelupas, jalan yang berlubang, pokoknya kesannya sangat tidak terawat sekali! Beranjak ke dalam gedung, suasana yang ditawarkan adalah ‘kalem’. Tembok didominasi oleh warna coklat krem dan hijau. Lukisan atau barang yang terdapat di dalam gedung ini sangat tertata rapi dan teratur. Namun yang kurang adalah penerangan yang cukup dan pendingin ruangan. Memang hal yang dua ini selalu menjadi kunci yang menentukan ‘kebetahan’ pengunjung. Sehingga walaupun barang yang terdapat di dalam gedung ini menarik dan bernilai sejarah serta berprospek pengetahuan, pengunjung akan bergegas pulang atau pergi dari TPKS. Hmm, sebaiknya hai ini menjadi bahan pemikiran pengelola. Agar TPKS mampu menjadi salah satu tempat wisata favorit di Palembang. Amin. (X*doni)

Senandung Cinta

Senandung Cinta
Karya: doniahmad 



Hamparan lautan tak cukup untuk menampungmu
Luasnya daratan pun tak mampu membendungmu
Seolah mereka tunduk, takjub akan kedahsyatan yang kau timbulkan
Seakan ingin meledak, menghamburkan segala keagungan yang kau miliki
            Cinta, begitu mudah dilafalkan
            Pun tak sulit untuk diucapkan
            Namun sulit untuk membuktikan pengertian cinta
            Atau menunggu cinta mau membuka kedoknya?
Mengapa cinta terasa begitu rumit?
Adakah jalan singkat yang menjadikan cinta itu mudah?
Karena cinta  begitu memesona
 Menyilaukan mata setiap insan yang terseret ke dalamnya
            Tak jarang cinta berujung maut
            Tak sering cinta berujung kasih
            Membius semua makhluk yang tersengat gigitannya
            Menjadikan mereka seolah mementingkan panca indera
Adakah yang paham pengertian cinta secara mendasar?
Adakah yang mengerti cinta secara keseluruhan?
Cinta itu logika atau perasaan?
Jawablah sesuai keinginanmu!

Jumat, 16 Juli 2010

If High School Is a Game


Judul                          : If High School Is a Game
Penulis                       : Cherie Carter-Scott
Penerbit                    : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit            : 2004
Jumlah Halaman      : 176 halaman

1.       Seputar Buku dan Penulis
Penulis buku ini, yaitu Dr. Cherie Carter Scott, adalah pengarang terlaris versi New York Times, dari bukunya If Life Is a Game, These Are The Rules. Buku ini merupakan buku terjemahan dari buku aslinya yang berasal dari New York, Inggris. Judul buku ini mulanya adalah “IF HIGH SCHOOL IS A GAME. HERE’S HOW TO BREAK THE RULES. (A Cutting Edge Guide to Becoming Yourself)” dan diterbitkan oleh Linda Michels Limited, International Literaty Agents.
2.       Pembahasan
Buku ini berisi tentang sepuluh aturan bagi remaja agar mereka dapat menikmati masa remaja dengan mulus dan menyenangkan. Buku ini juga mengurutkan sepuluh kenyataan tentang hidup. Kita akan langsung merasakan kebenarannya setelah membaca buku ini. Selain itu disertakan pula contoh-contoh kisah yang berkaitan dengan pembahasan. Hal ini sungguh menarik. Pembaca akan mendapat kemudahan ‘’lebih’’ untuk memahami maksud dari suatu bab.
Warna cover buku ini dominan hijau. Entah dengan alasan apa penerbit memilih warna ini. Yang jelas, menurut saya tampilan cover dari kasat mata masih terlihat kurang menarik. Mengapa saya katakan kurang? Karena warna huruf-huruf pada judul hanya menggunakan warna hitam. Sebaiknya dipilih warna yang setidaknya dapat “mencolok” atau menyita perhatian calon pembaca sejenak. Namun secara garis besar tampilan fisik dari buku ini sudah sangat bagus. Jumlah halamannya juga tidak terlalu tebal dan juga tidak terlalu pendek. Judul yang digunakan juga menarik. Calon pembaca akan langsung tahu apa sih maksud buku ini. Oleh sebab itu, setelah melihat beberapa aspek secara keseluruhan, dapat saya katakan bahwa tampilan luar buku ini sanggup menyita pandangan orang-orang. Great job!
Kemudian dari segi isi, pembahasan yang ditampilkan telah memenuhi selera pembaca. Mengapa? Karena penggunaan jenis huruf tidak membuat mata pembaca pedih ketika berlama-lama membacanya. Selain itu, walaupun tak terlihat warna lain selain warna hitam dalam setiap halaman, gambar atau ilustrasi yang ditampilkan dianggap mampu mewakili warna dan maksud dari penulis. Penggunaan contoh-contoh kasus yang sangat komunikatif sangat membantu pembaca ketika membaca tiap bab. Kita seolah diajak untuk memosisikan diri ke dalam contoh kasus yang ada, dan memikirkan tindakan apa yang akan kita lakukan bila kita berada pada situasi tersebut.
3.       Saran
Buku ini sungguh bagus bagi kalangan remaja yang masih bingung dan canggung dalam menemukan jalan hidupnya. Mereka seolah dipandu oleh instruktur yang berpengalaman dalam “meluruskan” hal-hal yang berkaitan dengan masa remaja. Oleh karena itu, sudah sepantasnya remaja zaman sekarang mengetahui kiat-kiat dan masukan-masukan bagi mereka dalam menghadapi perubahan yang terjadi ketika masa remaja. Semoga buku-buku karangan Cherie selanjutnya dapat selalu memberikan manfaat dan sanggup membantu para remaja menemukan arah yang benar dalam proses hidupnya.

Kamis, 15 Juli 2010

Promosi Ekstrakurikuler SMA Plus Negeri 17 Palembang 2010

            SMAN 17-Palembang. Peserta didik  SMA Plus Negeri 17 Palembang kini telah memasuki hari ke-5 dalam tahun ajaran 2010-2011. Berlanjut di hari Kamis, tanggal 15 Juli 2010, dimana seluruh ekstrakurikuler yang berada di bawah naungan SMA Plus Negeri 17 Palembang diperkenankan untuk melakukan promosi ekstrakurikuler. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik kelas X yang baru 'tiba' di SMA Plus Negeri 17 Palembang mendapatkan pengetahuan yang cukup dalam memilih ekstrakurikuler yang ada. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan agar peserta didik tidak salah memilih ekskul yang sesuai dengan minat dan bakat serta potensi peserta didik.

           Acara dimulai pada pukul 14.00 WIB bertempat di aula SMA Plus Negeri 17 Palembang. Acara dibuka oleh sambutan Koordinator Pembina OSIS, Pak Bambang, dan Waka Kesiswaan, Pak Erhan. Mereka berharap, kegiatan promosi ini akan menambah pengetahuan peserta didik (terutama kelas X) tentang berbagai ekskul yang ada di SMA Plus Negeri 17 Palembang. "Jadikanlah kegiatan ini sebagai ajang untuk 'mengorek' lebih dalam ekskul-ekskul yang diminati. Sehingga ke depan, tidak muncul kekecewaan bagi para peserta didik maupun wali murid tentang berbagai kegiatan di ekskul yang bersangkutan," tutur Pak Erhan selaku Waka Kesiswaan.

          Acara selanjutnya adalah presentasi dari seluruh ekskul yang ada di SMA Plus Negeri 17 Palembang. Presentasi dari ekskul Pramuka mengawali kegiatan pada siang hari itu. Diikuti oleh ekskul-ekskul lainnya yang secara 'wah' memperkenalkan ekskulnya. Mereka berusaha menarik minat peserta didik agar nantinya mereka berminat untuk bergabung dengan ekskul mereka, namun tetap tanpa menggunakan unsur intimidasi. Kegiatan berlangsung heboh dan khidmat. Antusiasme tinggi menjadikan seluruh peserta didik secara konstan memperhatikan seluk-beluk dari tiap ekskul yang tampil habis-habisan.

          Total ekskul yang kini berada di SMA Plus Negeri 17 Palembang berjumlah 12 ekskul. Sebelumnya hanya terdapat 11 ekskul, yaitu Parisanda, Pasmala, Perwira, Fokus, Kirana, Jurnalistik, Rohis, KGB, Akustik, Kodrat, dan Charlie Cheers. Namun ada penambahan satu ekskul lagi, yaitu ekskul Pramuka. Hal ini dilakukan oleh sekolah menyikapi banyaknya undangan yang datang berkenaan dengan kegiatan Pramuka. "Ketika banyak yang mengundang sekolah kita untuk mengikuti kegiatan atau perlombaan yang berkaitan dengan Pramuka, kita hanya bisa geleng-geleng kepala. Bagaimana bisa, suatu sekolah diundang untuk mengikuti perlombaan Pramuka, sedangkan peserta yang diikutkan untuk mewakili sekolah adalah yang 'amatiran'," sambung Pak Erhan. Hal ini akan menurunkan kualitas SMA Plus Negeri 17 Palembang di mata orang awam.

          Oleh karena itu, di akhir acara Pak Erhan kembali mengajak para peserta didik yang telah memiliki basic di bidang pramuka untuk bergabung dengan ekskul pramuka. Semoga ekskul ini akan menjadi salah satu andalan SMA Plus Negeri 17 Palembang di masa yang akan datang. Amin. Sekolah berjanji akan mendatangkan tenaga pendidik yang memang berkompeten di bidangnya. Sehingga peluang anggota Pramuka untuk mengharumkan Pramuka SMA Plus Negeri 17 Palembang akan semakin besar.

         Kegiatan ini berakhir pukul 16.00 WIB. Sebelum peserta dibubarkan, ada beberapa hal yang disampaikan oleh Waka Kesiswaan berkaitan dengan susunan pembina OSIS SMA Plus Negeri 17 Palembang yang baru (dimulai untuk tahun ajaran 2010-2011). Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin