Rabu, 02 Desember 2009

In My Dream?

IN MY DREAM?
(oleh : Ahmad Doni Meidianto)
 
           “Nadin, tau gak tanggal 20 ntar kita ikut pelatihan pengurus OSIS? Tingkat SMA se-Jawa Barat lho,” tanya Nova pada seorang cewek berkulit putih dan berambut panjang yang sedang sibuk melahap bakso kesukaannya di kantin Bu Mar.
           “Serius?! Berarti kamu juga ikut kan?” jawabnya saraya mengunyah bakso telor yang nyesek di mulutnya.
          “Yaiyalah. Tapi cuma kita berdua. Ketua sama sekretarisnya doang,” balas Nova sambil mempeerlihatkan surat tugas dari sekolah.
          “Kita disana nginep 6 hari. Kegiatannya sih macem-macem. Mulai dari pemberian materi dasar kepemimpinan, sampe seru-seruan pas diskusi kelompok. Ada outbond nya juga lho,” lanjut Nova dengan semangat menggebu-gebu.
          “Emm, ya udah deh. Ntar aku tanya papa sama mama dulu ya, dibolehin apa gak,” jawab Niadin santai sambil mengambil dan memasukkan surat tugas itu ke dalam tasnya yang berwarna coklat keemasan.
          “Pokoknya seru deh. Rugi kalo kita gak ikut,” lanjut Nova bermaksud membujuk Nadin.
***
          “Wah, serem bener nih asrama. Jalan kesini aja rada angker. Tapi lumayanlah, tidurnya di spring bed,” gumam Nadin sambil meletakkan tas di kamar bertuliskan “A16”.
          “Kamu dari daerah mana? Namaku Soraya. Biasa dipanggil Sora,” sapa seorang cewek dari arah belakang sambil mengulurkan tangan.
          “Ah, iya. Namaku Nadin. Utusan dari kota Bandung. Kamu dari daerah mana?” balas Nadin seraya menjabat tangan Sora.
          “Aku dari daerah Garut. Oh iya, dari sekolah kamu ngirim berapa pengurus OSIS?” lanjut Soraya mempersilahkan Nadin duduk di spring bed yang empuk berwarna krem muda.
          “Kami cuma berdua. Satu ketua, satu lagi sekretaris. Nah, yang ketuanya anak cowok. Namanya Nova,” Nadin mencoba mengakrabkan diri.
          “Kalo kami sih dua orang juga. Sama kayak kamu, satu ketua, satu lagi sekretaris. Ketuanya juga anak cowok. Namanya Dika,” sambung Soraya seolah tak mau kalah.
          “Ya udah. Semoga kita bisa jadi sahabat yang saling membantu,” harap Nadin sambil merebahkan badan bermaksud untuk beristirahat. Kebetulan Nadin tiba di asrama pukuk 20.45, jadi ia ingin langsung istirahat guna bersiap menyongsong 6 hari ke depan yang belum diketahuinya bersama teman-teman barunya.
***
          “Dipersilahkan kepada adik-adik sekalian bila ingin bertanya perihal materi kita pada siang hari ini,” narasumber memberikan kesempatan bertanya kepada seluruh siswa yang hadir, dan tentunya mereka semua merupakan pengurus OSIS dari sekolah masing-masing.
          Sejurus kemudian, seorang siswa putra mengangkat tangan hendak bertanya mengenai materi yang telah disampaikan. Sejak saat itu, Nadin mengenal siswa tersebut dengan nama Dika.
          “Ah, berarti dia ketua OSIS-nya sekolah Soraya,” pikir Nadin dalam hati.
          Wajahnya tidak terlalu tampan. Bahkan dapat dikategorikan biasa-biasa saja. Tingginya pun hanya sekitar 168 cm. Namun “aura” yang dipancarkan Dika membuat hati Nadin penuh dengan tanda tanya. Seolah tertarik dengan rupanya yang tergolong manis, Nadin memberanikan diri bertanya kepada Soraya tentang siswa itu.
          “Ooh.. Jadi kamu pengen kenalan ya? Tapi dia udah punya cewek lho. Gimana, masih mau coba?” tanya Soraya sembari mengedip-ngedipkan mata.
          “Emm, boleh deh. Tapi aku titip salam aja ya. Bilang ke dia, ada salam dari salah satu peserta putri yang penasaran sama dia,” jawab Nadin malu-malu.
          Sejak malam itu, hari-hari yang tersisa semakin terasa berat setelah hadirnya seorang Dika di benaknya. Nadin merasa sulit menjawab rasa penasaran itu sebelum ia becakap langsung dengan yang bersangkutan. Kebetulan saat itu Nadin sedang jomblo alias free. Memang Nadin sedang menanti hadirnya seseorang yang setidaknya mampu menyembuhkan luka yang dibuat oleh seorang cowok 4 bulan silam.
***
          “Hai, kamu yang namanya Nadin ya? Kata Soraya kamu lagi perlu pena. Nih. . .” sapa Dika sembari memberikan sebuah pena bertuliskan Hi-Tech berwarna hitam.
          “I. .i. .iya. Makasih ya,” jawab Nadin terbata-bata sambil menerima pinjaman pena dari Dika.
          “Huh, dasar si Soraya. Masa gini dia nyapanya. Kan gak seru,” gumam Nadin sambil menuju ke tempat duduk dan siap untuk menerima materi kembali.
***
           Malam harinya, Dika ternyata ingin bertemu dengan Soraya untuk membahas pelajaran di sekolah. Kebetulan malam itu tidak ada penyampaian materi kepada peserta. Hal ini tidak dilewatkan oleh Nadin untuk menyelidiki sejauh mana pengetahuannya tentang Dika.
          “Mau belajar bareng gak?” ajak Dika sembari tersenyum.
          “Boleh,” sahut Nadin bersemangat.
           Mereka bertiga pun berbagi pengalaman mengenai pelajaran yang telah dipelajari di sekolah. Ternyata materi di sekolah Dika dan Soraya sudah jauh meninggalkan materi di sekolah Nadin, sehingga Nadin hanya bisa terdiam menyaksikan mereka berdua belajar bersama.
          Sekitar pukul 21.00, mereka beranjak kembali ke kamar masing-masing. Setelah berpamitan, Nadin bergegas masuk ke kamarnya. Ternyata walaupun sudah bertatap muka dan berbincang langsung dengan orang yang selama ini di selidiki, tidak menyurutkan rasa penasaran Nadin terhadap Dika.
          Hari demi hari terasa begitu cepat seolah ingin meninggalkan rasa penasaran Nadin ditelan oleh sang waktu. Tak terasa tibalah hari perpisahan dimana seluruh peserta dipersilahkan untuk kembali ke daerah masing-masing karena materi yang di siapkan telah disampaikan semuanya kepada peserta. Nadin merasa sedih akan datangnya hari itu, karena baginya perpisahan itu akan semakin membuat hatinya penasaran.
         “Sampai bertemu lain kali ya, Nadin,” Dika mengucapkan kalimat terakhir sebelum mereka semua kembali ke rumah masing-masing.
         “Ya, sampai ketemu juga ya,” jawab Nadin memberikan senyuman terakhir sejadi-jadinya kepada Dika.
          Mungkin itulah sosok seseorang yang akan terus merasuki hati Nadin diiringa dengan beribu tanda tanya tentang dirinya. Ia berharap akan ada yang menjawab pertanyaan-pertanyaan itu kelak, walaupun yang menjawabnya bukan orang yang bersangkutan. Namun ia juga pesimis akan tibanya jawaban-jawaban itu. Who can answer my question? Maybe it only in my dream.

Kini, tibalah saatnya kita kan berpisah
Berpisah dengan teman-teman seperjuangan
Kalau ada kesalahan mohon dimaafkan
Sejiwa janji kita untuk selama-lamanya

***

1 komentar:

  1. Pengalaman Pribadi ya kak???
    Dapet darimana inspirasinya...?? Kok bisa sih kak...
    Bagus...
    Emang sastrawan muda yang paling top....

    BalasHapus