Rabu, 02 Desember 2009

Pangeran Wahid Shaleh

PANGERAN WAHID SHALEH
( Oleh : Ahmad Doni Meidianto )

           “Penyerahan tahta dari Sang Raja kepada Sang Pangeran dilaksanakan 2 minggu lagi! Dan kepada. . . .” Menteri Zainal membacakan pengumuman di tengah alun-alun kota Gizawa.
           Masyarakat yang medengar pengumuman itu berharap Kerajaan mengundang seluruh rakyatnya karena mereka ingin sekali melihat Sang Pangeran yang dikenal ramah dan santun itu menempati posisi teratas di negeri tersebut. Kota Gizawa merupakan ibu kota dari negeri Qasdir yang terletak di belahan bumi bagian timur persis di sebelah Laut Hitam.
           Pangeran yang sebentar lagi akan dinobatkan menjadi raja itu bernama Wahid Shaleh. Ia merupakan keturunan satu-satunya dari Raja Shaleh Abdullah yang telah memimpin kerajaan selama lebih dari 20 tahun. Kini usiannya yang telah beranjak tua mengisyaratkan kepadanya untuk menyerahkan tahta kerajaan kepada anak semata wayangnya yang tentunya telah ia didik menjadi seorang pemimpin yang arif dan bijaksana.
          Pangeran Wahid Saleh memang telah menunjukkan tanda-tanda kesiapannya dalam memimpin kerajaan. Itu diperlihatkannya ketika ia sering membantu prajurit-prajurit menyusun strategi dan mengayomi masyarakat dengan tidak segan memberikan makanan kepada mereka yang membutuhkan. Karena itulah, rakyat negeri tersebut sangat mencintai dan menyayangi sang Pangeran.
***
          “Ahh, bagaimana kalau saya sejenak merasakan bagaimana menjadi rakyat biasa. Hitung-hitung pengalaman saya sebelum menjadi raja,” pikir Pangeran Wahid ketika sedang mengamati kegiatan masyarakat yang sedang bahu-membahu membangun sebuah Masjid.
           Malam itu, Pangeran Wahid lantas segera berpakaian layaknya mesyarakat biasa dan bergegas menuju ke luar kerajaan dengan diam-diam tanpa diketahui siapa pun. Ia hanya mengenakan pakaian lusuh berwarna putih disertai dengan surban yang setia melindingi kepalanya sehingga penyamarannya sulit diketahui orang lain. Tak lupa ia juga mengenakan sarung berwarna hijau kesayangannya ditemani sandal jepit berwarna biru yang tampaknya tidak cocok lagi disebut sebagai sandal.
          Namun salah satu pengawal kerajaan menyadari sang Pangeran yang keluar dari kerajaan dengan mengendap-endap. Pengawal itu lantas memberitahu sang Raja bahwa sang Pangeran telah keluar dari kerajaan mengenakan pakaian lusuh. Mendengar berita itu, Raja langsung mengerti maksud dari Pangeran dan menyuruh pengawal itu untuk membiarkan sang Pangeran dan bersikap biasa-biasa saja.
          Setibanya Pangeran Wahid di tengah kerumunan warga, ia bergegas mengamati aktivitas rakyatnya pada malam hari. Ada yang masih berdagang, menawarkan jasa, dan sebagainya. Ketika ia tengah asik menikmati pemandangan itu, tiba-tiba seorang nenek meminta tolong kepada Pangeran untuk membawakan kayu bakar yang telah dibelinya barusan ke rumahnya.
          “Hei, tolong bawakan kayu bakar ini kerumah saya,” pinta nenek tersebut.
          Ia mengira Pangeran adalah seorang budak yang biasanya membantu pembeli disekitar pasar. Tentu saja nenek itu tidak mengetahui siapa yang ia suruh untuk mengangkat kayu tesebut.
          Pangeran yang berhati baik itu pun lantas segera mengangkat dan mengantarkan kayu-kayu itu kerumah si nenek. Jarak rumahnya berada cukup jauh dari pasar. Namun Pangeran dengan senang hati membantu rakyatnya tersebut.
          “Tidak usah nek. Saya sudah senang telah membantu nenek,” kata Pangeran kepada si nenek yang hendak memberikan upah jasa pengangkutan tadi. Pangeran pun segera berpamitan karena takut samarannya diketahui rakyatnya.
          Ia kembali berjalan menikmati malam sebagai rakyat biasa. Banyak pelajaran yang bisa ia dapatkan dari petualangannya kali ini, baik dari segi moral maupun akhlak. Menurutnya, tidak semua orang yang berkecukupan berhati “sehat”. Namun sebaliknya, banyak orang yang berhati “bersih” berada di kalangan rakyat biasa. Hal ini semakin memacu semangat sang Pangeran untuk terus mensejahterakan rakyatnya.
          Di tengah perjalanan, ia melihat sekelompok lelaki yang sedang duduk di sebuah warung sambil menenggak berbotol-botol minuman keras. Hal ini membuat hatinya miris akan kelakuan rakyatnya itu. Ia pun memberanikan diri mendekati warung tersebut berniat untuk menegurnya.
          “Hei kalian. Berhentilah berbuat hal ini. Karena sesungguhnya minum minuman keras hanya akan mendatangkan musibah dan penyakit bagi kalian,” nasihat beliau kepada mereka tanpa pandang bulu.
          “Ahh! Ini bukan urusanmu. Sudah, sana pergi. Sebelum kami berubah pikiran untuk membiarkanmu pergi,” ancam salah satu lelaki itu sambil mengacungkan sebilah pisau.
          Sang Pangeran hanya bisa terdiam dan berlalu meninggalkan waarung tersebut. Hatinya sedih, mengapa masih ada rakyatnya yang melanggar perintah Yang Maha Kuasa. Hal ini menjadi pelajaran bagi dirinya untuk tetap mengedepankan nilai-nilai keagamaan dalam memimpin.
          Ia pun melanjutkan pengamatannya terhadap orang-orang yang sebentar lagi menjadi rakyatnya seutuhnya. Tepat pukul 02.00 pagi, Pangeran pulang ke kerajaan. Ia pulang setelah memetik banyak pelajaran berharga dari “kepergiannya” itu. Ia pun tertidur pulas menunggu datangnya pagi yang cerah.
***
          Tibalah hari penobatannya sebagai Raja di negeri itu. Ternyata kerajaan mengundang seluruh rakyatnya untuk menyaksikan acara penyerahan tahta tersebut. Acara tersebut berlangsung khidmat dan tertib. Seluruh rakyat antusias menyaksikan peristiwa yang jarang terjadi, karena memang biasanya penyerahan tahta dilakukan setelah seorang raja memimpin selama berpuluh-puluh tahun lamanya.
          Pada sambutannya sebagai Raja yang baru, Raja Wahid menceritakan pengalamannya menjadi rakyat biasa. Ia berterima kasih kepada rakyatnya yang senantiasa mengedepankan ajaran-ajaran Yang Maha Kuasa, dan mengingatkan kepada orang-orang yang melenceng dari ajaran-Nya.
          “Marilah kita bersama-sama membangun negeri ini, dengan menjunjung tinggi nilai dan moral serta akhlak yang di ajarkan-Nya,” pesan Raja Wahid menutup sambutannya.
          Acara dilanjutkan dengan jamuan minuman dan pembagian makanan sehingga berlangsung dengan suasan gembira. Seluruh masyarakat kota Gizawa menikmati indahnya hari tersebut.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar