Minggu, 13 Desember 2009

Kisah Pena Mungil : Penggaris



Pena yang sedang asik membaca surat kabar tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya sebuah penggaris ke dalam kotak pensil yang telah dianggap rumah baginya. Ternyata penggaris itu baru dibuang oleh seseorang karena tampak penggaris itu telah using.
“Permisi,” sapa Penggaris ramah.
“Ya, ada apa ya?” tanya Pena sembari membalikkan badannya.
“Anu, saya baru tiba disini. Jadi saya mau cari tempat tinggal. Boleh tidak saya tinggal sementara di sini?” izin Penggaris kepada Pena.
“Wah, boleh juga tuh. Kan enak, jadi rame rumah kita,” tiba-tiba Penghapus datang dan segera merangkul Penggaris.
“Ya udah. Gak apa-apa kamu tinggal disini. Lagian disini cuma ada 4 penghuni. Jadi masih muat buat 1 penghuni lagi,” jawab Pena diiringi senyuman Penggaris.
“Terima kasih. Semoga saya bisa membantu kalian disini,” lanjut Penggaris berterima kasih.
“Ngomong-ngomong , kenapa kamu dibuang? Padahal kamu masih bisa dipakai mereka,” tanya Penghapus ingin tahu.
“Begini. Saya dibuang karena saya terlalu banyak meluruskan  masalah. Sehingga banyak Penghapus-Penghapus di luar sana yang iri dan berusaha menendang saya dari mereka. Padahal, para Pensil dan Pena telah banyak yang terbantu oleh saya. Semua masalah yang timbul telah kami luruskan bersama. Namun Penghapus-Penghapus yang jahat itu kemudian menfitnah saya. Akhirnya saya dibuang walaupun saya masih bisa digunakan,” terang Penggaris panjang lebar menceritakan alasan kenapa ia dibuang.
“Oh, begitu ya. Terus bagaimana nasib Pensil dan Pena yang kau tinggalkan?” tanya Pena.
“Mereka tampaknya telah termakan hasutan Penghapus-Penghapus itu. Sehingga masalah yang timbul dapat terhapus dengan mudah, tanpa diluruskan terlebih dahulu. Seolah tidak lagi membutuhkan Penggaris yang meluruskan masalah. Mereka seenaknya mempermainkan hukum. Saya kecewa. Mestinya Penghapus-Penghapus itu membantu Penggaris dalam memecahkan masalah, tapi apa boleh buat,” lanjut Penggaris.
Pena kemudian mengangguk-ngangguk seolah mengerti. Tiba-tiba Pena angkat bicara,
“Memang di dunia ini selalu  ada yang benar dan ada yang salah. Ada yang pura-pura benar dan ada juga yang pura-pura salah. Semuanya hanyalah topeng semata. Sialnya, Si Benar selalu dipermainkan, seperti anak kecil yang mudah disuruh-suruh. Tinggal bagaimana cara kita sabagai Si Benar menyikapi hal seperti ini,” Pena memberikan pendapatnya mengenai fenomena yang terjadi di luar sana.
“Kita harus sabar. Berdo’a kepada Yang Maha Kuasa. Semoga Si Salah dan Si Pura-Pura Benar mendapat hidayah, menyadari apa yang telah mereka perbuat,” tiba-tiba Penghapus membalas pendapat Pena.
“Amin,” sambung Pena dan Penggaris serentak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar